Jumat, 11 Juli 2014

Sepakbola pada Persimpangan Luka, Ingatan, dan Kenangan





Gabriel Garcia Marquez, sastrawan dari Kolombia yang masyhur itu pernah berujar bahwa dalam hidup, yang menjadi persoalan bukanlah yang terjadi pada kita, namun apa yang kita ingat dan bagaimana kita mengingatnya. Boleh jadi, sastrawan yang karib disapa Gabo itu benar. Namun bertolak dari kuotasi Marquez tadi, ingatan sebenarnya tidak menjadi faktor utama pemicu persoalan hidup. Di sebelahnya, ada perihal lain yang kita beri nama sebagai kenangan.

Ada batas yang agak sumir antara ingatan dan kenangan. Kadang kala keduanya tak bisa dibedakan, kadang kala ingatan dan kenangan saling menelikung, saling memunggungi, tapi juga saling melanjutkan satu sama lain. Kenangan selalu saja tidak terduga. Dan bahayanya, dia bisa datang kapan saja, semau-maunya—berbeda dengan ingatan yang sepenuhnya bisa dikendalikan oleh si empunya ingatan. Kenangan bukan benda yang bisa dipanggil kapan saja, dipermainkan lantas dipanggil pulang kapan saja. Kenangan bergerak dengan caranya sendiri, semacam rumput liar yang tidak pernah diinginkan. Semua itu saya dapati setelah saya membaca novel karya Zen RS, Jalan Lain ke Tulehu [Sepakbola dan Ingatan yang Mengejar].

Adalah seorang jurnalis bernama Gentur, tokoh utama dalam novel ini, datang ke tanah Ambon yang sedang dirundung bara konflik horizontal pada tahun 1999. Gentur  datang dalam keadaan yang gelisah. Ia memendam konflik batin dan menjalani perang antara ingatan dan kenangannya sendiri—luka perih dan trauma mendalam akibat kerusuhan Mei 1998.

Di Ambon, Gentur mengalami ketegangan demi ketegangan akibat konflik horizontal. Ia menyaksikan dan mencatat berbagai kejadian pelik yang ironisnya dipicu oleh tabir agama. Agama, untuk kesekian kalinya dalam peradaban manusia dimanfaatkan sebagai pemecah. Situasi konflik beragama di Ambon kala itu tergambar pada ucapan teman Gentur bernama Frans, seorang mantan frater, “Iman dipaksa untuk tampil secara tembus pandang. Tak boleh ada rahasia, misteri, dan enigma pada iman di tengah konflik”.

Perjalanan Gentur di Ambon juga mengantarkannya ke Tulehu, sebuah desa kecil penghasil pesepakbola berkualitas. Di Tulehu, Gentur mengingat dan terkenang masa lalunya tentang sepakbola yang dihiasi oleh nama-nama dari Tulehu. Semisal Mustadi Lestaluhu, pemain yang mengenalkannya pada tendangan keras dari luar kotak penalti yang dinamai “tendangan geledek”. Ia tahu frasa itu setelah orang Tulehu bernama Mustadi Lestaluhu yang melakukannyabukannya Ronald Koeman, bek legendaris dari Belanda yang juga dikenal memiliki keahlian serupa.

Tulehu juga mengenalkannya pada persahabatan dengan Said, seorang pesepakbola yang gagal. Kegagalannya menjadi pesepakbola mengantarkannya menjadi ojek motor sekaligus menjadi pelatih sepakbola untuk anak-anak secara sukarela di lapangan Matawaru. Bersama Said, Gentur melewati hari-hari penuh kecamuk konflik sekaligus gairah sepakbola yang mengakar kuat di Tulehu.

Di Tulehu, sepakbola benar-benar dihayati  dengan tulus. Dicintai sebagai sebuah cerita rakyat yang menggugah. Walau tanah mereka dirundung konflik. Walau dentum meriam, letusan senjata, dan desing peluru terdengar dari jauh. Gentur pun menulis dalam feature-nya tentang sepakbola di Tulehu: “Sepakbola adalah masa lalu Tulehu sekaligus masa depan bagi Tulehu dan anak-anaknya yng mempunyai mimpi memperbaiki nasib melalui sepakbola. Sepakbola juga menjadi kisah yang akan terus mengingatkan penduduknya bahwa rumah bersama mereka, salah satunya, terletak pada lapangan sepakbola. Melalui ingatan bahwa sepakbola adalah rumah bersama pada masa lalu dan masa depan, nostalgia bagi Tulehu tak selamanya berarti dunia yang sudah hilang. Sepakbola sebagai nostalgia, bagi Tulehu, hadir dalam bentuknya yang restoratif, memulihkan dan membangkitkan kembali masa lalu secara terus menerus, melalui anak-anak laki yang sejak masih merah sudah tidur dengan bola di sisi bantalnya.”

***

Novel setebal 300 halaman ini ditulis Zen RS dalam waktu yang terbilang singkat, yakni hanya kurang dari dua minggu. Namun proses risetnya memakan waktu bertahun-tahun.  Alur yang dipakai adalah kombinasi antara alur maju dengan alur flashback dengan tempo sedang-sedang saja. Saya juga sepakat ketika ada yang bilang bahwa kekurangan novel ini adalah dialog-dialog yang menggunakan campuran bahasa daerah. Walaupun saya maklum, itu justru bukti kekayaan Zen sebagai seorang penulis Kekurangan lainnya, beberapa fragmen di luar esensi utama cerita juga dimunculkan terlalu banyak sebagai pelengkap. 

Di luar itu semua, Zen—sebagaimana di tulisannya yang lain, menulis dengan detail yang brilian, koherensi kalimat yang kokoh, dan memberikan pemahaman-pemahaman baru yang mencerahkan.

Saya memang sangat menyukai tulisan-tulisan Zen. Baik esai-esainya, cerpen, atau tulisan feature-nya. Zen mahir menulis banyak hal: sejarah, sepakbola, budaya, sosial-politik. Bagi saya, tulisan Zen selalu menyiratkan ciri khas berupa “stamina” menulis yang tidak kedodoran untuk sebuah tulisan (terlebih tulisan panjang) sehingga nyawa tulisan sangat terasa. Zen juga dikenal sebagai pengingat yang baik dan pencatat yang rajin.

Jika ada yang mengira novel ini adalah melulu berkisah tentang sepakbola, maka orang tersebut salah besar. Buku juga diracik melalui konteks sosial politik, budaya, sejarah. Di Tulehu, sepakbola hadir sebagai persimpangan ingatan dan kenangan tentang semua hal itu. Sepakbola dalam novel ini juga merupakan—sebagaimana judulnya—jalan lain pada belantara konflik di Tulehu. Sebagaimana diujar oleh Zen sendiri pada blog-nya: Sepakbola menjadi unsur penting, tapi bukan satu-satunya. Sepakbola memainkan perannya sebagai salah satu jalan memasuki lorong ingatan dan kenangan yang penting dalam setiap konflik berdarah.

Buku ini juga bukan merupakan adaptasi film Cahaya dari Timur (juga bukan sebaliknya). Sebab memang antara buku ini dan film Cahaya dari Timur memiliki tokoh, alur, dan konflik cerita yang berbeda, meskipun latar belakangnya tetap Tulehu dan konflik berdarah di Ambon. Yang ada—meminjam istilah Zen—plot yang saling beririsan.

Saya adalah bagian dari penikmat tulisan Zen yang sekian lama menantikan dia menulis buku sendiri dalam bentuk novel. Sebagai sebuah penantian yang panjang, hadirnya Jalan Lain ke Tulehu adalah perkara yang menggembirakan. Tanpa ragu-ragu dan tanpa bermaksud berlebihan, buku ini adalah salah satu buku terbaik yang saya baca sepanjang tahun ini.


Sabtu, 05 Juli 2014

Ketika Tua






Pagi ini, ketika subuh mulai terusir dan fajar baru menjelang, kita bertemu. Kulitmu kini mengeriput, pipimu menggelambir, perutmu molor, dan gigimu banyak yang ompong. Rambutmu masih seperti dulu, pendek menggantung serendah leher—dan dulu kerap kubelai.

Aku mencoba memberanikan diri, mengumpulkan sisa-sisa nyali dalam badan yang kian meringkih, untuk mengecup keningmu. Jidat lebar yang membuat kita kerap berolok-olok. Dan tanganku yang kini kerap gemetar karena tremor, menggenggam erat tanganmu. Kita lalu berpelukan. Tak kuhitung berapa lama, aku malas mengakrabi hitungan waktu. Mengingat waktu hanya akan mengingat luka kita masing-masing. Aku hanya ingin hadir padamu saat ini. Itu saja. Nanti, aku tidak menjanjikan apa-apa, kecuali badan renta yang terus memancang ikrar di dalam hati: aku mencintaimu, entah sampai kapan.

Urung terwujud impianku untuk mati muda. Aku batal menjadi bagian dari kisah gagah anak-anak muda yang gagap mengeja hidup. Tapi tetap saja hingga sekarang, aku masih berharap agar diselamatkan dari usia yang terlampau panjang. Menjadi tua dan kesepian itu bisa dibilang..umm…menyedihkan.

Kau masih rajin merawat kukumu? Dulu aku pernah bilang padamu, bahwa tumbuhnya kuku mirip dengan perasaan ketika jatuh cinta. Perlahan-lahan, tak terlalu diperhatikan, tiba-tiba menumbuh begitu saja. Yang perlu diperhatikan adalah ketika mulai panjang, kuku harus dirawat akan tidak tajam melukai.

Perjalanan panjang yang dulu hendak kita tempuh, juga tidak terlakoni. Padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke  banyak tempat. Naik kereta api sepanjang perjalanan, berpindah-pindah hostel, menjajal bermacam-macam kuliner lokal, mengkhidmati subuh di tiap dermaga lalu menuliskan cerita bersama-sama. Menyusuri jejak kejayaan Majapahit di Mojokerto, berkelakar dan mengocok perut dengan naik angkot di Sawahlunto yang jalannya berkelok-kelok, menengok eksotiknya Vietnam, menikmati sore di sekitar Wat Arun sambil memberi makan ikan-ikan kecil, lalu malamnya menikmati suasana sungai Chao Praya dengan dinner cruise bersama. Atau belajar yoga di India. Lalu menjajal hidup dengan menjadi hippies berdua. Sedikit mirip dengan John Lennon dan Yoko Ono yang  sering aku ceritakan padamu.

Aku pernah menginginkan menjadi petani. Membayangkan betapa menyenangkannya menggarap lahan bersama orang-orang. Memiliki rumah di atas bukit. Kecil saja, tak usah terlalu besar agar kau tidak repot mengurus. Setiap senja temaram, kita berbincang-bincang membicarakan apa yang kita lalui sepanjang hari sambil minum teh bersama di teras rumah.

Orang-orang kerap bilang agar aku sebaiknya tak panjang angan-angan. Tak usah menanam harapan. Tapi tahu apa mereka soal kebaikan buatku? Kebenaran mungkin bisa menjadi klaim siapapun, tetapi kebaikan adalah tafsir pribadi. Aku yang tahu yang baik buatku, bukan mereka. Lagipula, tanpa harapan, apalagi yang aku punya? Mencintaimu memang sedari awal adalah mencintai harapan yang pupus.  Jadi maafkanlah aku yang keras kepala.

Sampai serenta ini, aku masih tetap menulis. Menulis adalah perkara keberanian, dan aku enggan tampak pengecut buatmu. Menulis juga upaya menggenapi janjiku kepadamu. Bahwa pada barisan kalam, aku titipkan doa-doa kebaikan buatmu. Menjaga kerinduan untuk terus tumbuh menjalar, namun tidak liar. Laku menulis memang menuntunku menuju paradoks. Menjagaku dalam kewarasan sekaligus meneguhkan kesintinganku.

Kau masih mematung. Mungkin sirkuit di otakmu sedang diderasi arus ingatan tentang kita. Memutar kisah yang pernah kita lalui. Memunculkan frame demi frame kenangan yang tiba-tiba berkelebat. Tapi bibirmu tak berucap. Hanya bergetar. Kau lantas mengekspresikan kegagapan gestur dengan memelukku erat—menyandarkan kepala di bahuku.

Kau perlu tahu, bahwa ingatan dan kenangan tidak benar-benar lenyap lalu tiba-tiba muncul kembali sesekali karena kita paksa hadir atau justru tanpa kita sadari. Ingatan dan kenangan juga bisa menjadi energi tak kasat mata yang meneguhkan langkah.

“Kau terlalu banyak bicara,” katamu dengan sedikit menyebalkan, tapi tetap manis.

“Lalu?” tanyaku.

“Bernyanyilah. Lantunkan lagu untuk menghiburku, agar kesedihanku terusir.”

Aku terbata-bata menyanyikan lagu kesukaanmu. Kau tak ikut bernyanyi. Hanya memejamkan mata, sambil menyunggingkan senyum di ujung bibir. Di sudut pelupuk matamu yang keriput, menyembul buliran air mata. Uapnya memanjat ke langit pagi, harumnya kesturi. Sambil mengusap rambutmu yang mudah rontok, aku kembali mengecup kening sambil berdoa buatmu. Di belakang kita, burung gereja bercuit mengamini—pada ranting-ranting pohon yang daun-daunnya berjatuhan. Tetap saja, Sayang, harapan harus kita rumat sekalipun hidup seringkali bukan melulu persoalan tercapainya setiap keinginan.