Rabu, 30 Mei 2012

Tentang Akber Jember: Bukan Nyala, Hanya Percik Api


Di sebuah malam, Imam Ali didatangi oleh sepuluh orang Khawarij yang hendak bertanya sesuatu kepadanya. Sepuluh orang ini datang karena memang iri dengan reputasi Imam Ali yang saat itu menjabat sebagai khalifah keempat, selain karena memang rasa penasaran mereka soal Imam Ali yang dikenal tinggi ilmunya. 

Imam Ali menerima kedatangan tamunya dengan baik, mempersilakan mereka bertanya, satu persatu. Tidak disangka, pertanyaan mereka ternyata sama. Orang ke satu sampai orang ke sepuluh bertanya, "Wahai Imam Ali, manakah yang lebih berharga, ilmu atau harta? Apakah yang menjadi sebab-sebabnya?"
  
Ali kemudian menjawab pertanyaan itu dengan sabar. Semuanya. Satu persatu. 
"Ilmu pengetahuan itu adalah warisan orang yang disayang Tuhan (nabi), sedangkan harta kekayaaan adalah warisan orang-orang tamak seperti Qarun, Syadad, dan lain-lain. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan lebih mulia daripada harta benda.
Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmulah yang menjaga dan memelihara pemiliknya, sedangkan harta yang empunyalah yang memelihara dan menjaganya. 
Ilmu lebih mulia daripada harta, karena orang yang berilmu banyak sahabatnya, sedangkan orang yang banyak hartanya lebih banyak musuhnya.
Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu bila disebarkan atau diajarkan akan bertambah sedangkan harta kalau diberikan kepada orang lain akan berkurang.
Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu tidak dapat dicuri, sedangkan harta benda mudah dicuri dan dapat lenyap. 
Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu tidak bisa binasa, sedangkan harta kekayaan dapat lenyap dan habis karena masa dan usia.
Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu tidak ada batasnya, sedangkan harta benda ada batasnya dan dapat dihitung jumlahnya.
Ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu memberi dan memancarkan sinar kebaikan, menjernihkan pikiran dan hati serta menenangkan jiwa, sedangkan harta kekayaan pada umumnya dapat menggelapkan jiwa dan hati pemiliknya.
Ilmu lebih mulia daripada harta, karena orang yang berilmu mencintai kebajikan dan sebutannya mulia seperti si 'Alim, dan sebutan mulia lainnya. Sedangkan, orang yang berharta bisa melarat dan lebih cenderung kepada sifat-sifat kikir dan bakhil.  
Ilmu lebih mulia dan lebih utama daripada harta kekayaan, karena orang yang berilmu lebih mendorong untuk mencintai Allah. Sedangkan harta benda dapat membangkitkan rasa sombong, congkak dan takabur."

Imam Ali menjawab sepuluh pertanyaan yang sama dengan sepuluh jawaban yang berbeda. Sambil berdecak kagum karena jawaban Imam Ali, kesepuluh orang tadi pulang, kembali ke kaumnya.


***

Saya tak paham benar, apakah orang-orang keren yang menggagas berdirinya Akademi Berbagi pernah membaca dan mendengar kisah di atas atau tidak. Tak jadi soal. Namun yang jelas, mereka juga paham bahwa ilmu adalah perihal yang istimewa. Ilmu tidak akan habis, ilmu tidak dapat dicuri, atau ilmu akan menjaga pemiliknya. Karena itu semua, ilmu harus  dibagikan.

Kebaikan ibarat magnet, memang. Ia akan menarik kebaikan yang lain. Gerakan berbagi ilmu yang diakomodasi dengan baik dan gratis akan mendatangkan banyak orang yang mau menjadi relawan untuk itu. Dan bisa dilihat, Akademi Berbagi terus berkembang dan berbiak, dari kota ke kota, mencoba menularkan semangat berbagi ilmu kepada siapapun yang memang membutuhkan.

Saya salut dengan orang-orang macam beliau-beliau. Di tengah pesimisme adalah hal yang sangat dimaklumi, nyinyir menjadi kebiasaan, dan mengeluh menjadi laku biasa, hadir orang-orang macam mereka. Kita boleh mengumpat soal dunia pendidikan yang bobrok. Sekolah sebagai institusi pendidikan yang punya esensi membagi ilmu, tumbuh gagah menjadi organ yang diprivatisasi, sistemnya kacau, biayanya kian tak tak terjangkau, atau apalah itu. Tapi apa semua selesai dengan mengumpat dan mengeluh?

Maka kami memutuskan bergabung. Mencoba ikut dalam gerakan berbagi ini. Berharap kami yang tidak mengerti banyak hal ini bisa menyalakan api-api kecil baru, walaupun kadang kami turut mengutuki kegelapan sebagaimana yang  lain.

Bermula dengan perkenalan di Twitter, seorang kawan bernama Oyong mengajak saya untuk menggagas gerakan berbagi di kota Jember dengan Akademi Berbagi sebagai induknya. Saya langsung sepakat. Ternyata Oyong juga mengajak Dhani, teman saya yang gila buku sejak dalam kandungan. Kami bertiga lalu bertemu di sebuah kafe kecil, ngobrol ringan soal berdirinya Akademi Berbagi (Akber) Jember.

Api kecil bertambah satu lagi saat saya dikenalkan pada Rahmad, pemilik Kedai Kopi Cak Wang. Rahmad mau menjadi relawan Akber Jember. Kedai Kopi Cak Wang akhirnya juga jadi tempat untuk kami bertemu dan membicarakan banyak hal terkait gerakan berbagi ini. Ditambah lagi dukungan dari Erik, seorang desainer yang kerap beroperasi secara klandeisten, contest-hunter, yang berkenan terlibat secara langsung maupun tidak di gerakan ini. Akhirnya kami sepakat, kelas pertama Akber Jember harus segera dimulai. 

Ini Oyong. Entah dengan mobil siapa. 

Ini Rahmad, pemilik Kedai Kopi Cak Wang. Entah sedang mikir apa. 
ini Erik, si desainer logo yang kerap beroperasi klandeistein
Ini Arman Dhani, bukan Sai Baba. 

Saya bertemu banyak kawan baru di gerakan ini. Kawan-kawan yang bagi saya sangat mengilhami. Kawan-kawan yang mau berbuat sesuatu tanpa harus basa-basi dan publikasi. Kawan-kawan yang tak hanya mengutuki kegelapan, tapi juga mencoba menyalakan api. Sekecil apapun api itu.

Jika memang ilmu adalah cahaya, maka ia ia harus dinyalakan. Upaya berbagi adalah upaya menyalakannya. Ya, kami hanyalah percikan api, barangkali. Hanya mencoba mencontoh mereka yang sudah terlebih dulu menyalakan api lebih besar. Kami tidak yakin kami bisa menerangi, tapi kami yakin ada api-api lebih besar yang datang, dan berbagi nyala dengan kami. Mencoba berbagi terang, kepada siapapun. Kepada yang kerap mengumpat dan menyerapahi gelap kepada sekitar sekalipun.

Jumat, 25 Mei 2012

Paradoks Seni Ala Bung Besar

” Aku dicaci seperti bandit dan dipuja bagai dewa"
–Sukarno


25 Mei 1926. Tepat 86 tahun yang lalu, pemuda tampan bernama Sukarno itu menamatkan studinya di Technische Hooge School (sekarang bernama Institut Teknologi Bandung) di usianya yang ke-25. Konsentrasi studinya ke bidang teknik bangunan. Ia diganjar gelar insinyur sipil.


Namun teknik sipil bukanlah minat sebenar-benarnya dari pemuda yang nantinya kerap disapa Bung Besar itu. Ia justru menggairahi dua hal: arsitektur dan kesenian. Dua hal tadi  memberi pengaruh besar pada keputusan-keputusan politiknya. Sukarno sebagai seorang presiden yang tahu benar bahwa romantisme adalah gagasan yang mudah menyentuh hati. Kawin silang antara hasrat yang mendalam pada seni dan rancang gambar bangunan menjadikan Sukarno membangun kenangan yang tak hanya berdaya pikat, tapi juga simbolik, dan mengikat ingatan.

Maka Sukarno gencar merancang gedung, patung dan  monumen. Hampir semua monumen besar di Jakarta adalah buah rancang dari pikirannya. Monumen Nasional, Patung Selamat Datang, Patung Dirgantara, Tugu Pak Tani, patung di persimpangan Menteng. Hotel Priangan juga salah satu karyanya sebagai arsitek.

Sukarno juga menggilai lukisan. Banyak karya dari pelukis ternama ia koleksi. Dari yang bergaya coret-moret ekspresif ala Affandi, sampai realis macam Basuki Abdullah. Sukarno juga gandrung dengan pagelaran. Ia penikmat tarian, wayang, dan sandiwara. Ketika ia diasingkan di Ende pada periode 1934-1938, ia mendirikan Perkumpulan Sandiwara Kalimutu. Ia merancang kostum sekaligus membuat latar panggung sendiri.

Sebagai seorang ahli pidato, ia juga seorang orator yang sadar panggung. Ia tahu benar seni berkomunikasi massa. Kata-katanya menggugah, mahir memainkan tempo, tematik, dan tentunya retorik. Dia seakan-akan ingat benar kata-kata Adolf Hitler: ”Gross sein heisst Massen bewegen könen.” (Seseorang yang mampu menggerakkan massa untuk bertindak akan menjadi seseorang yang besar).

Gairahnya yang mendalam terhadap estetika, tak sepenuhnya polos. Bagaimanapun, ia menjadikan seni lebih dari sekedar ungkapan ekspresi tapi juga simbol-simbol di perjalanan politik. Kecintaan seni ala Sukarno adalah sebuah cinta yang berparadoks.

Di satu sisi, caranya memuliakan seni dan seniman membuatnya seakan-akan tercitra sebagai sosok yang penuh dengan gagasan-gagasan yang “memerdekakan”. Sebab seni memang berangkat dari sebuah ungkapan kebebasan berekspresi. Dan Bung Karno seakan mengamini ihwal ini. Ia pernah menulis,” Mutu daripada lukisan-lukisan dan patung dalam koleksi saya ini tidak selamanya sama-tinggi, tetapi lukisan-lukisan dan patung-patung itu sendiri adalah bukti "hasil kemerdekaan".

Di sisi lain, di sanalah paradoks itu hadir. Sikap Sukarno yang pandai mengungkapkan retorika dan mengumbar ekspresi keindahan serta cara Sukarno mengapresiasi seni berlawanan dengan sikapnya sebagai seorang pemimpin.

Wacana kemerdekaan, kebebasan berekspresi dan sikap yang otentik tidak tampak pada saat dia menyikapi kawan-kawan yang mengkritiknya, yang melempar pendapat berbeda. Termasuk sikapnya memenjarakan Sutan Sjahrir yang kerap dipanggil Bung Kecil, Perdana Menteri Indonesia pertama, sampai akhirnya Sjahrir meninggal tragis sebagai tahanan. Sikap Sukarno yang memberangus pers dan main bredel pada beberapa media juga rasanya jauh dari semangat seni yang karib dengan kebebasan ekspresi. Ia seakan mengingkari pilihannya sendiri.

Sikap berkesenian Sukarno kandas oleh tendensi politik.  Masih ingat sikap Sukarno yang melarang keras musik ngak-ngik-ngok ala The Beatles yang dipandang tidak nasionalis?

Sedikit atau banyak, Sukarno memang dipengaruhi Lekra yang bersitegang dengan kaum Manifes Kebudayaan,  memang tidak setuju dengan ungkapan “seni untuk seni”. Manifesto Kebudayaan yang digagas kaum seniman dan budayawan itu konon lahir untuk mempertahankan kebebasan berkesenian.

Ya, Sukarno sebagai seorang pecinta seni memang lebih mementingkan imagologi. Sebuah ungkapan bahwa jerat image adalah sebuah pikat yang membius. Obsesinya pada jerat image dengan membangun monumen, tugu, dan patung-patung sebagai sebuah simbol imaji kebesaran, rasanya kurang tepat di tengah inflasi pada tahun 1950-1960an.

Bagaimanapun, dari sisi kepekaan estetik dan sikap-sikap politisnya, tersirat bahwa Sukarno memang sebuah paradoks yang unik. Kesukaannya pada simbol, membuatnya yakin bahwa sedikit atau banyak ini dipengaruhi karena naungan rasi Gemini, sebagai mana yang diungkapnya sendiri. “Gemini adalah lambang kekembaran; dua sifat yang saling berlawanan,” katanya.  Antara  idealis sekaligus pragmatis. Antara percaya diri dan inferioritas. Antara obsesif dan peragu. Kata Hatta, “Tujuan Sukarno baik, tapi langkah-langkah yang ia ambil kerap menjauhkannya dari tujuan itu”.

Sikap Sukarno yang paham benar jerat imaji itu tak pernah berhenti menjadikannya ikon revolusional Indonesia yang paling menonjol. Mirip Che Guavara untuk Kuba, Mao untuk Cina, dan mirip Kurt Cobain untuk musik grunge.  Sukarno  adalah simbol keteguhan  yang membius. Ia seperti Bima, tokoh Pandawa, yang mengisyaratkan sikap nglamak, tidak sopan, pemberontak, dan cenderung ngoko pada imperialisme Barat. Dia memang kerap menyamakan dirinya dengan ksatria Pandawa dalam perang besar melawan kolonial.

Sikap Sukarno yang gagah justru menjadi pemicu kemundurannya. Ia kelewat gagah. Politik tak segegap-gempita epik, memang. Demokrasi Terpimpin menjadi sebuah codet yang menggurat wajahnya. Ia barangkali contoh bahwa kebanggaan diri yang kelewat besar, akan menghantam diri sendiri.
Apapun yang menjadi dosa-dosa politik yang ia empu, Sukarno adalah contoh sebuah produk romantisme sejarah yang penuh daya pikat.

Ia adalah paradoks yang indah.

Kamis, 10 Mei 2012

Karena Lelaki adalah Perempuan yang Tertunda




Dulu, hiduplah sebuah masyarakat yang maju nian peradabannya. Masyarakat ini terdiri atas sekumpulan manusia pilihan yang mempunyai kemampuan khusus. Pikirannya tajam, cerdas, badannya kuat, parasnya rupawan. Pendek kata: komplit. Masyarakat ini ditunjang oleh kehadiran sumber daya alam yang kaya. Tak ayal, masyarakat ini meninggalkan jejak peradaban yang sangat memukau. Teknologi, pemeliharaan kesehatan, sistem tata kota, pendidikan, sampai bangunan sebagai simbol majunya sebuah peradaban, dihasilkan dengan begitu baik oleh masyarakat ini.

Namun, sampai suatu titik, masyarakat ini jenuh. Karena mereka adalah kaum superior, mereka merasa satu sama lain di antara mereka tidak mau diatur. Sebab masing-masing merasa paling hebat. Mereka butuh sesuatu yang lebih besar lagi dari mereka untuk mengatur tatanan masyarakat.

Lalu mereka berkumpul dan berunding. Mencari titik temu tentang sebuah sistem yang superior yang diharapkan bisa mengatur mereka. Akhirnya mereka sepakat. Mereka menciptakan sendiri sistem itu. Sebuah sistem superior yang bisa mengatur mereka. Mereka menciptakan kepercayaan. Bahwa di atas mereka ada sebuah daerah tak tersentuh yang dihuni oleh orang-orang yang lebih superior dari mereka. Mereka menciptakan sistem dewa-dewi. Mereka menciptakan agama. Menurut mereka, ini satu-satunya jalan untuk mengatasi kekacauan tatanan sosial yang terjadi di masyarakat mereka.

Inilah cikal bakal agama pagan.

Yang menarik, sistem dewa-dewi itu didominasi oleh perempuan. Perempuan diyakini oleh mereka adalah makhluk istimewa. Sehingga mereka menempatkan banyak perempuan sebagai bagian dari maha-sistem yang mereka sembah. Penguasa kesuburan, ilmu pengetahuan, kecerdasan, perdamaian, di kepercayaan mereka diisi oleh perempuan (dewi).

Agama pagan ini kemudian perlahan-lahan musnah oleh hadirnya agama-agama klaim langit (samawi). Meskipun perkembangan dari agama pagan ini juga terlanjur mempengaruhi sistem kepercayaan daerah lain yang juga menempatkan perempuan sebagai bagian dari sistem ketuhanan. Menariknya, agama samawi justru lain. Perempuan tak lagi dilibatkan sebagai bagian dari sistem ketuhanan. Bagi kaum samawi, tuhan dimaknai sebagai entitas agung yang tidak terdefinisikan secara kelamin. Sebab bagi samawi, tuhan bukan makhluk. Jadi tidak akan berkelamin sebagaimana makhluknya. Walaupun kadang-kadang mereka juga kerap ingkar sendiri, dengan secara tidak langsung kerap mengasosiasikan tuhan adalah laki-laki. Kata "dia" bila merujuk pada "tuhan" selalu diterjemahkan dengan "he" dalam bahasa Inggris, bukan?

Saya tak hendak berdebat soal agama. Bukan kapasitas saya. Saya juga tidak hendak menegaskan klaim yang jelas apakah saya theis, atheis, agnostik, atau co-exist. Saya tidak menulis untuk berbangga pada salah satu label yang saya sebut tadi.

Tapi saya mencoba mencermati, bahwa perempuan sebenarnya adalah makhluk istimewa. Tak ayal, kaum pagan berikut kaum lain yang tertular mereka, menempatkan mereka sebagai bagian dari penguasa tatanan alam, menurut kepercayaan mereka.

Kita semua memang perempuan pada mulanya. Janin terbentuk karena perpaduan kromosom si emak dan bapak. Bapak diwakili kromosom XY dan emak diwakili kromosom XX. Bila X dari ibu bertemu Y milik bapak, yang terbentuk adalah janin lelaki. Cikal bakal kelamin-yang disebut gonad-akan membentuk testis. Sedangkan bila X dari bapak bertemu X milik emak, maka si janin adalah cewek. Testosteron di janin pada usia 8 minggu lah yang menggagalkan semua makhluk di muka bumi adalah perempuan.

Hormon estrogen miik perempuan sangat dominan dalam pembentukan otak manusia. Sehingga, struktur otak perempuan memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri dibandingkan milik kaum lelaki. Misalnya, dari segi corpus callosum, yang merupakan penghubung antara belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Corpus callosum pada perempuan cenderung lebih tebal dibandingkan dengan milik lelaki. Ini yang membuat pemakaian fungsi belahan otak kanan dan kiri pada perempuan jauh lebih baik dan efisien pada perempuan, dibandingkan pada laki-laki. Implikasinya, perempuan bisa memiliki fungsi koordinasi otak kanan dan kiri dengan sangat baik. Mereka lebih multitasking daripada pria. Efek lain tebalnya corpus callosum adalah soal ekspresi verbal dan non-verbal.  Perempuan lebih bisa mengeskpresikan apa yang ia rasakan dalam bentuk kata-kata, maupun dalam bentuk gestur.

Kecepatan persepsi perempuan juga lebih baik daripada laki-laki. Tak hanya soal persepsi, menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan presisi, perempuan juga lebih baik daripada lelaki.

Perempuan juga lebih tanggap dalam merespon perasaan orang lain. Ini karena sistem limbik perempuan bekerja delapan kali lebih cepat daripada laki-laki.

Perempuan juga lebih tahan sakit daripada lelaki. Reseptor nyeri di otak perempuan lebih memiliki banyak sel yang meregister input nyeri. Karena proses habituasi, mereka akhirnya lebih adaptif terhadap nyeri. Belum lagi menstruasi yang datang setiap bulan. Karena proses ini, tingkat adaptasi perempuan terhadap nyeri jauh lebih kuat daripada lelaki.

Sehingga adalah aneh ketika kaum laki-laki merasa lebih jumawa daripada perempuan. Ungkapan "perempuan" sering dikonotasikan sebagai olok-olok yang cenderung bersifat merendahkan. Kebanyakan kaum lelaki merasa lebih kuat, karena struktur tubuh mereka yang lebih banyak otot daripada perempuan yang lebih banyak lemak.

Termasuk di negara tempat saya berpijak kini. Negara yang konon mengedepankan "nilai-nilai ketimuran". Memujanya, lalu berlindung di balik nilai-nilai tadi. Tak salah memang. "Nilai-nilai ketimuran" yang mereka kedepankan itu memang erat dengan budaya patriarkhi. Budaya yang melabeli perempuan seakan sebagai manusia sekunder setelah laki-laki. Budaya yang lebih memperlakukan perempuan sebagai unsur pemikat yang berbahaya. Sehingga kaum perempuan harus menjaga dirinya sendiri, mulai dari menutup rapat-rapat  kulitnya sendiri, sampai belajar beladiri. Sedang kaum lelaki tak mau memperbaiki pola pikirnya sendiri. Tetap merasa kuasa dan minta dilayani, mengaku tak boleh diusik dengan rok mini, tapi sesekali tetap rajin berfantasi. Oh, hidup testosteron!!

Saya feminis? Rasanya tidak. Saya sedang merutuki kemunafikan diri sendiri.




*gambar diambil dari sini. Da Vinci adalah salah seorang yang percaya tentang rahasia luar biasa di balik sosok perempuan. Lukisan Monalisa adalah lukisan yang tidak jelas benar apakah dia perempuan atau sekadar representasi sosok Da Vinci itu sendiri.