Jumat, 18 Juni 2021

Tiga Lingkaran

 


Di sebuah forum, Sabrang Mowo Damar Panuluh, putra Cak Nun, pernah ditanya oleh seorang mahasiswa. Kala itu, Sabrang—atau biasa juga dipanggil Noe Letto, menghadiri acara yang dihelat oleh pemuda-pemuda dari salah satu ormas keagamaan terbesar di Indonesia.

“Mas Sabrang, dari tadi Anda bicara soal teori terus. Kenapa tidak bicara soal teori konspirasi? Padahal itu seringkali dibicarakan,” kurang lebih demikian tanya pemuda itu.


Sabrang menanggapi pertanyaan itu dengan raut muka yang tenang, lalu membalas pemuda itu dengan pertanyaan.

“Anda pernah merencanakan sesuatu?” tanya Sabrang.

“Pernah,” pemuda itu menjawab.

“Selalu terwujud? Atau kadang-kadang ada yang meleset?”

“Tidak selalu terwujud. Ada yang meleset.”

“Itulah teori konspirasi. Untuk sebuah hal kecil saja, ada kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat sebuah rencana akan meleset. Apalagi untuk sebuah hal besar, yang melibatkan organisasi besar, apa iya selalu mulus sesuai dengan rencana?” kata Sabrang.

Sabrang lantas menambahi, “Saya kasih contoh lagi. Kasus Watergate, misalnya. Itu konspirasi yang hanya melibatkan hanya 9 orang. Bocor. Apalagi teori konspirasi yang melibatkan ribuan orang. Teori bumi datar misalnya. Beri saya teori soal bumi datar, saya bisa menyanggah semuanya.”

Yang dimaksud Sabrang adalah skandal politik di Amerika Serikat di tahun 1974 yang berbuntut kepada pemakzulan Presiden Nixon.

“Teori konspirasi itu anggap saja menikmati sebuah karya fiksi. Cukup dibaca dan dinikmati saja, tidak usah dianggap serius. Jaman saya masih seumuran sampeyan, saya juga sama. Tertarik dengan banyak teori konspirasi, terlibat di banyak forum di internet, bahkan sampai masuk di semacam deep web. Tapi lama-lama saya menganggap itu hal yang tidak perlu. Bahwa sebagian ada yang benar, ya memang iya, Tapi banyak melesetnya. Lagipula, terus mau apa?,” imbuh Sabrang panjang lebar.

Tentu saja, teori konspirasi yang dimaksud oleh pemuda yang bertanya tadi adalah teori bahwa ada sekumpulan elit global yang mengendalikan dunia dan seisinya dengan megasistem yang berkelindan rapi, penuh skalndal, intrik dan muslihat, dan menjadikan sekian milyar manusia tak ubahnya bidak catur yang digunakan untuk sekumpulan tujuan tertentu.

Produknya banyak. Mulai bumi datar, hingga tentu saja, COVID-19. Sabrang sepakat bahwa dalam teori konspirasi, jurus yang paling sering dipakai adalah cherry picking. Memetik buah cherry. Mengambil bagian kecil yang dianggap cocok, tapi mengabaikan bagian lain yang lebih besar.

Sabrang lalu menambahkan lagi.

“Saya punya teori. Namanya teori 3 lingkaran. Lingkaran pertama adalah hal-hal yang dalam kendalimu. Fokuslah di sana.  Lingkaran kedua adalah hal-hal yang bisa kamu intervensi, tapi tidak mengendalikannya. Jangan terlalu fokus di sana.  Lingkaran ketiga adalah hal yang tidak bisa kamu kendalikan, juga tidak bisa kamu intervensi. Tidak usah kamu fokus ke sana”

Sabrang berusaha menyederhanakan lagi dengan membuat analogi.

“Gampangnya, ibaratnya lingkaran pertama adalah kamu sedang naik motor. Lingkaran kedua adalah kamu sedang naik motor tapi berboncengan dengan temanmu dan dia yang menyetir. Lingkaran ketiga adalah kamu melihat motor lain di sekitarmu”.

Mungkin Sabrang memang benar dalam hal ini. Kita—apalagi saya, kadang-kadang sering salah menata fokus. Kurang menyadari bahwa energi dan waktu adalah sumber daya kita yang terbatas, dan bisa habis. Maka menaruh sumber daya energi dan waktu sebagai bahan bakar fokus kita dalam menjalani hidup, adalah persoalan penting.

Saya teringat cerita dari Baker Street 221 B. Suatu ketika, John Watson kaget saat mendapati bahwa kompatriotnya yang jenius, Sherlock Holmes, ternyata tidak tahu apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya. Agak aneh, mengingat reputasi Holmes sebagai detektif paling pintar.

“Apa pengaruhnya buatku bila bumi ternyata benar mengelilingi matahari, atau justru sebaliknya?” kata Holmes, sambil melanjutkan kegiatannya mempelajari kasus kejahatan.

Di akhir diskusi, Sabrang menutup dengan memberi analogi sekali lagi.

“Dalam hidup ini, terhadap hal-hal yang datang ke kita,  ada tiga buah kotak. Kotak pertama adalah kotak percaya. Kotak kedua adalah kotak tidak percaya. Yang ketiga adalah kotak tidak tahu. Kita harus bijak menggunakan kotak yang ketiga. Sekarang, orang sangat jarang menggunakan kotak ini, karena orang hanya sibuk memilih antara percaya atau tidak percaya saja. Padahal, tidak masalah menjadi orang yang tidak tahu.”

Memang, di era informasi yang membanjir ini, kita sering terjebak pada hasrat untuk menjadi paling tahu, lalu memutuskan percaya atau tidak, sambil kadang sesekali mengadili pilihan orang lain. Padahal ada pilihan yang bisa kita ambil untuk menjadi tidak tahu, sambil terus berjalan, menikmati hidup dengan kesadaran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar