Sabtu, 01 Agustus 2020

Api Abadi Pak Dahlan


Gambar diambil dari sini

Pak Dahlan Iskan adalah contoh sosok dengan semangat hidup yang tiada surut. Sedikitpun. Ini bisa dibantah, tapi hampir semua orang yang mengenal beliau—atau setidaknya tahu kiprahnya, mengamini bahwa beliau adalah sosok dengan semangat yang terus menyala. 

Bicara soal Pak Dahlan, tentu saja tidak bisa tidak bicara soal jurnalistik. Beliau adalah panutan di bidang itu, secara personal maupun sebagai pimpinan perusahaan yang berkutat di industri media.

Rantai bisnis media yang beliau himpun, Jawa Pos Group, menjulur di mana-mana. Di era disrupsi seperti saat ini pun, Jawa Pos Group masih bisa menunjukkan kiprah dengan menyesuaikan diri dengan segala perubahan.

Secara personal, Pak Dahlan adalah teladan di bidang jurnalistik. Di usia yang kian senja, jiwa jurnalistiknya tidak pudar.  Hingga hari ini, ia masih melestarikan kerja jurnalistik yang paling dasar: menulis. Tak ada satu haripun yang terlewat tanpa menulis. Sebisa mungkin, Pak Dahlan menulis setiap hari. Saya ulangi, setiap hari.

Tulisannya ia unggah dalam halaman pribadinya yang beralamat di disway.id. Setiap hari, jam 05.00 pagi, saat banyak orang masih di balik selimut, ia sudah mengirimkan tulisannya kepada editor, lantas diunggah di halaman disway.id.

Halaman disway.id sendiri disediakan oleh orang-orang yang pernah menjadi anggotanya di Jawa Pos. Lebih dari sekadar mantan “anak buah”, mereka mendaku diri sebagai “murid ideologis” Pak Dahlan. Mereka inilah yang saling sumbang untuk menghidupi disway.id. Ada yang menjadi editor, penata layout dan grafis, hingga penyedia server. Pak Dahlan tinggal menulis setiap hari, untuk dikirim ke editor.

Tapi tentu frasa “tinggal menulis setiap hari” itu bukan perkara remeh. Menulis secara konsisten setiap hari butuh mental yang tebal. Selalu ada sejumlah alasan dan sehimpun apologi untuk lalai. Tapi itu tidak berlaku buat Pak Dahlan. Beliau mampu menaklukan perkara hambatan mental itu seakan-akan dengan mudahnya. Untuk menulis setiap hari, beliau harus sanggup menulis kapanpun dan di manapun. Tambahan lagi, dengan apapun. Untuk diketahui, hampir semua tulisan di disway.id, ditulis oleh Pak Dahlan dengan gawai ponsel. Ditulis dengan ponsel, menggunakan satu tangan saja, dengan satu jempol.

Sekarang halaman disway.id sudah berumur sekitar 2 tahun. Artinya sudah sekitar 700 tulisan lebih beliau tulis dengan gawai. Dengan tangan kiri. Dengan satu jempol. Pernah satu kali ia menulis dengan laptop, karena hapenya rusak. Terlindas ban mobil.

Karena butuh kelenturan yang plastis, maka Pak Dahlan menyiasati dengan menulis di ponsel. Ponsel yang beliau pilih juga yang tidak berlayar lebar. Yang penting jempol tangan kirinya bisa menjangkau sisi kanan ponsel dengan nyaman. Tulisannya sering dibuat saat menunggu di bandara, membarengi mobilitasnya yang tinggi. 

Tulisan Pak Dahlan tentu sudah selesai dengan urusan teknis. Tulisannya fokus, tak kehilangan bobot tapi tetap renyah dibaca. Editor pun mengakui bahwa tulisan beliau tidak banyak diedit. Mungkin hanya sekadar membenahi typo atau saltik. Pak Dahlan mengaku bahwa memang tulisannya sekarang agak disesuaikan dengan karakter pembaca di era media sosial. Salah satunya adalah melalui kalimat yang pendek-pendek.

Perkenalan saya dengan tulisan Pak Dahlan, diawali dengan membaca tulisan-tulisannya tentang operasi tranplantasi livernya. Awalnya saya membaca tulisan-tulisan itu secara bersambung di harian Jawa Pos. Tulisan berseri itu lantas dibukukan dengan judul “Ganti Hati”. Saya beli dan baca cetakan pertamanya. Tapi setelah tamat membaca, buku itu kemudian hilang. Saya lupa di mana. Entah tertinggal di suatu tempat, entah dipinjam kawan dan tak kembali.

Karena buku itu saya anggap penting, saya membaca lagi buku berjudul sama yang dicetak ulang entah keberapa, beberapa tahun kemudian. Yang beda salah satunya di sampul. Cetakan awal bersampul wajah Pak Dahlan yang dibuat ilustrator Jawa Pos favorit saya, Pak Budiono.

Dari buku “Ganti Hati” saya mengenal sosok Pak Dahlan lebih dalam. Saya pelajari pula teknik menulisnya. Pak Dahlan sangat piawai membuat tulisan dengan lead yang menggoda serta diakhiri dengan penutup yang menggelitik. Belakangan saya tahu, bahwa Pak Dahlan di awal karirnya, sempat ingin meniru gaya menulis almarhum Pak Mahbub Djunaidi, mantan kolomnis Tempo yang sangat jago menulis lincah dan sarat humor, tapi tetap bernas.

Hal lain yang coba saya pelajari dan tiru adalah teknik Pak Dahlan dalam menulis ringkas. Tulisan tidak boros dan bertele-tele, tetap enak dibaca, tapi esensi tidak kabur. Susah sekali menulis seperti itu. Saya pernah dengar dari seorang kawan, salah satu “aturan” dalam menulis di Jawa Pos adalah sebuah kalimat harus bisa dibaca dalam satu tarikan napas. Dengan kaidah itu, akan terhindar dari kalimat-kalimat panjang yang membingungkan.

Di buku “Ganti Hati”, Pak Dahlan menulis ringkasan kisah hidupnya sampai harus menjalani operasi transplantasi liver di Beijing. Di buku itu saya baru tahu bahwa Pak Dahlan, yang bahkan tidak memiliki data sahih tentang tanggal lahirnya, membangun Jawa Pos Group dengan perjuangan sangat tak mudah. Pak Dahlan bekerja sekitar 18 jam sehari. Tanpa henti. Terus menerus. Akhirnya di usianya yang semakin meninggi, livernya protes karena terlalu sering diajak kerja keras.

Pak Dahlan memang dikenal sejak muda sudah memiliki dedikasi yang tinggi. Beliau membangun karirnya dari bawah sebelum membangun Jawa Pos Group. Di tahun 1975, Pak Dahlan bergabung dengan majalah Tempo, yang sedari dulu dikenal ketat standar jurnalistiknya. Tulisan Pak Dahlan sebagai wartawan yang paling dianggap fenomenal dan sering dijadikan teladan dalam reportase investigatif adalah tulisan yang berjudul “Neraka 40 Jam di Tengah Laut”. Kala itu, Pak Dahlan sudah menempati posisi Kepala Biro Tempo Jawa Timur. Reportase itu berkisah detail tentang terbakarnya kapal Tampomas II. Laporan itu dinilai begitu hidup dan “basah”. Pak Dahlan kala itu merekonstruksi kejadiaan naas itu dengan melakukan wawancara selama 3 hari 3 malam, tanpa tidur.

Setelah dari “Ganti Hati”, saya seperti kecanduan tulisan-tulisan Pak Dahlan. Pak Dahlan dengan hati yang baru, justru semakin produktif. Buku-bukunya semakin banyak untuk didapat. Apa saja beliau tulis, walau sudah tidak berkecimpung langusng di Jawa Pos Group. Saat menjabat Direktur Utama PLN, beliau menghasilkan beberapa buku. Yang saya paling suka berjudul "Dua Tangisan Satu Tawa". Saat menjabat Menteri BUMN, beliau juga menulis buku yang dihimpun dari tulisan-tulisannya yang diberi tajuk “Manufacturing Hope”. Hampir semua buku tulisan Pak Dahlan setelah buku “Ganti Hati” saya punya.

Sampai sekarang, api semangat Pak Dahlan tetap nyala dan terang. Ia tetap menjaga api semangatnya, menuliskan apa saja dengan apik. Menyampaikan banyak hal, untuk kita simak, pelajari, kadang kita tertawai. Kadang saya tidak sepakat isi tulisannya, tapi itu hal yang wajar-wajar saja. 

Saya tetap lancang memosisikan diri sebagai murid ideologis beliau. Mencari terang dari pancaran apinya, yang mengabadi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar