Senin, 06 Juli 2020

Kepada Guru Emha




Gambar diambil dari sini
Bila ada sosok yang selama ini sangat berperan membuka cakrawala berpikir saya, maka Emha Ainun Najib namanya. Bila ada sosok yang ujarannya secara tertulis maupun terucap banyak memengaruhi cara berpikir dan cara bersikap saya, Emha Ainun Najib namanya. Bila ada sosok yang lancang saya jadikan guru—walaupun dia belum tentu mau, maka Emha Ainun Najib pula namanya.

Saya tidak ragu, juga tidak malu mengakuinya. Saya sangat bersyukur karena beliau masih ada di negeri ini. Darinya, saya belajar sangat banyak hal, meski saya tiada pernah bertatap muka langsung.

Suatu sore, saya mendapat kabar bahwa Cak Nun—begitu beliau biasa disapa, hendak datang ke Ambulu, desa kelahiran saya. Ambulu adalah kecamatan kecil di arah selatan Jember-Jawa Timur, berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat kota Jember. Dari lahir hingga SMA, saya menghabiskan masa kecil saya di sana. Kedua orang tua saya dan keluarga juga masih tinggal di sana.

Entah apa yang memutuskan Cak Nun mau singgah bersama rombongan ke Ambulu. Tajuk acaranya seperti yang beliau gagas di desa-desa lain: Sinau Bareng. Acara Sinau Bareng ini berkonsep seperti halnya acara Cak Nun dan rombongan di tempat lain. Mereka disediakan panggung sederhana—yang tidak boleh terlalu tinggi kedudukannya dari posisi jamaah yang hadir, lalu anak-anak Maiyah (begitu biasa sekumpulan orang yang hadir dalam acaranya disebut) berkerumun di sana, belajar bersama tentang banyak hal, sesekali bershalawat dan berdzikir, hingga larut malam.

Sinau Bareng adalah salah satu tajuk acara yang digagas oleh Cak Nun, Kiai Kanjeng dan rombongan. Ada beberapa tajuk acara serupa, misalnya Kenduri Cinta di Jakarta, Bangbang Wetan di Surabaya, Padhang mBulan di Jombang, Juguran Syafaat, dan masih banyak lagi.

Jadwal beliau sangat padat, hampir setiap hari, dari desa ke desa, dari kecamatan ke kecamatan, Cak Nun dan rombongan Kiai Kanjeng menghadiri undangan untuk berdialog dengan lapisan masyarakat, yang paling bawah sekalipun. Yang menjadi menarik, Cak Nun dan rombongan Kiai Kanjeng tidak akan menghadiri undangan yang berskala panggung “besar”, misalnya lingkup Kabupaten ke atas, partai politik, atau diliput media nasional. Hampir dipastikan undangan-undangan semacam tersebut akan ditolaknya.

Maka ketika saya mendapat kabar bahwa Cak Nun dan rombongan Kiai Kanjeng akan datang ke Ambulu, saya memancang niat: saya harus hadir. Ini kesempatan langka.

***

Suatu sore, saya mendapat pesan pendek dari istri saya. Waktu itu, kami masih baru menikah. Karena istri saya harus menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya, kami berjauhan Jember-Surabaya untuk sementara waktu. Bila tanggung jawabnya selesai, istri pindah ke Jember untuk tinggal bersama saya. Mendengar bahwa Cak Nun akan ke Ambulu, istri berniat ke Jember, membarengi saya yang akan pulang ke Ambulu, untuk hadir di acara Sinau Bareng.

Namun di pesan pendek tersebut, istri mengabarkan bahwa dia mendapati flek kemerahan yang terus menderas dari organ reproduksinya. Saya mencoba tidak panik, lalu menelepon dan berbincang panjang.

Setelahnya, saya memutuskan bahwa saya harus segera ke Surabaya. Istri saya keguguran. Kejadian itu di akhir pekan. Esoknya, Cak Nun dan rombongan Kiai Kanjeng datang ke Ambulu. Saya tidak jadi hadir di acara tersebut sebab saya harus ke Surabaya, menemani istri saya yang keguguran.

Di lambung kereta, sepanjang perjalanan menuju Surabaya, saya berbincang dalam hati dengan diri sendiri. Saya yang berniat hadir untuk mengunduh ilmu secara langsung dari Cak Nun, harus mengurungkan niat karena ada perkara yang jauh lebih penting. Padahal, Cak Nun hadir ke Ambulu bisa jadi hanya sekali seumur hidup. Namun begitulah mungkin cara Tuhan mengajari saya untuk membuat pilihan. Kadang ada hal yang berharga yang harus dilepas, demi hal lain yang lebih berarti. 

***

Pengaruh Cak Nun dalam kehidupan saya sehingga saya menjadikannya guru, tak bisa lepas dari kemampuannya dalam mengartikulasikan ilmunya dalam banyak hal secara sederhana, lugas, banyak cara, namun sangat mengena. Ia membuat saya membuka ruang dialektika dalam diri untuk terus berproses menemukan diri sendiri dalam mengolah fenomena yang terjadi, dengan nakal, menyenangkan, tapi tidak lepas dari koridor kehambaan kita kepada Allah. Satu hal lagi, Cak Nun mengajarkan pentingnya berdaulat pada diri sendiri, tidak mengekor atau mengembik pada sosok, tokoh, ajaran yang membuat kehilangan kendali diri.

Di acara Kenduri Cinta, Cak Nun pernah membuat judul acara: “Emha Sudah Mati” sebagai penegas bahwa beliau menghindari penokohan, glorifikasi, atau bahkan pengkultusan yang membuat banyak orang tidak berdaulat akan dirinya.

Itulah Cak Nun alias Guru Emha—ijinkan saya menyebutnya demikian. Manusia yang bebas dan merdeka. Cerita soal keberaniannya menyingkir dari tempik sorai dan riuh rendah popularitas untuk menempuh jalan sunyi, jamak terdengar di kalangan anak-anak Maiyah. Dan memang demikianlah adanya.

Dulu saat akhir SD, saya sering tahu sosok Emha muda di televisi. Dia gagah nian, dengan kumis tebal yang melintang di atas bibirnya. Rambutnya ikal panjang, badannya kurus. Sosoknya mudah dikenali di antara banyak tokoh lain yang berlalu lalang di media. Terlihat nyentrik.

Waktu itu adalah bulan 1998, negeri ini sedang kisruh. Pak Harto, waktu itu dipaksa turun dari jabatan presiden yang sudah digenggamnya selama 32 tahun. Kerusuhan di banyak tempat, diikuti penjarahan, pembakaran, pemerkosaan, khususnya di kawasan Jakarta.

Belakangan, saya baru mengerti bahwa kenapa sosok berkumis lebat itu sering terlihat adalah karena dia tergabung dalam sejumlah  tokoh intelektual muslim yang meminta Soeharto untuk mundur. Cak Nun bahkan menjadi salah satu motor penting yang memberikan "nasihat"  agar Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden. 

Bahkan konon, frasa “ora dadi presiden ora patheken” di pidato kemunduran Soeharto diadopsi dari ujaran Cak Nun.

Secara lebih detail, Cak Nun menuliskan momen penting dalam sejarah bangsa Indonesia itu dalam bukunya: Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana.

Selepas 1998, Cak Nun memilih jalan sunyi. Ia menepi dan menghindari sorot terang popularitas media. Ia menolak tampil di media nasional manapun. Ia juga tak lagi menulis di kolom media. Padahal, Emha adalah penulis kolom yang yahud. Bahasanya lincah, diksinya tidak tertebak, dan substansi tulisannya selalu lengkap. Emha bahkan sempat menjadi penulis kolom berusia paling muda di majalah Tempo. Padahal, Tempo adalah salah satu media yang standarnya sangat ketat.

Satu lagi, Guru Emha adalah penulis yang sangat produktif. Dari kolom, puisi, artikel, hingga buku. Setahu saya, bukunya sudah lahir lebih dari 70 buku. Yang menarik, buku-buku tersebut terus dicetak ulang hingga sekarang karena konteksnya yang dianggap masih sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Perihal produktivitasnya, banyak cerita menarik. Guru Emha konon bisa menulis artikel/esai dengan santai, sambil memangku mesin ketik sekaligus menerima tamu dan berbincang-bincang di kediamannya. Banyak orang berkomentar bahwa ia memiliki ilmu laduni yang ajaib sehingga membuatnya bisa menulis dan memaparkan banyak hal dengan sangat mudah, yang relevansinya mengabadi hingga kini. Tentu saja beliau menampik. Buatnya, menulis tak ubahnya pekerjaan biasa saja. Ia pernah berujar bahwa ia menulis karena memang harus menulis. Tak ada yang dilebih-lebihkan, kecuali karena ia memang menyukai bekerja. “Allah Maha Pekerja. Saya makhluk pekerja,” ujarnya suatu ketika. Emha hingga kini, dikenal sebagai sosok yang sering melakukan pekerjaan yang dianggap remeh temeh, termasuk pekerjaan domestik di rumah tangga.

***

Dari Cak Nun atau Guru Emha, saya belajar sangat banyak hal. Satu yang paling mendasar bagi saya adalah kesadaran bahwa alam semesta ini bekerja tidak melulu dengan hal-hal yang bersifat materialisme saja. Ada hal-hal yang kita tidak mengerti dengan cukup, yang menggerakkan semuanya dalam satu kesatuan. Manusia modern seperti kita seringkali abai dengan hal ini.

Dari Guru Emha pula saya belajar konsistensi, bahkan soal perkara epistimologi. Menurut Guru Emha, kita kacau sejak hal-hal yang paling kecil sekalipun, gara-gara tidak konsisten.

Yang paling penting, saya belajar kejenakaan dari Guru Emha. Cak Nun sangat sering membuka cakrawala berpikir melalui guyonan satir atau humor-humor yang segar. Jurus ini pula yang sering dia pakai untuk mengkritisi banyak hal. Sejauh ini, toh juga belum ada yang tersinggung karena kritiknya. Taktik ini memang jitu, dan sering saya tiru dalam mengomentari hal yang membuat saya tidak sreg.  Saya teringat rumus beliau, “Mau tersinggung gimana, orang dia sudah saya ajak ketawa sebelumnya”.

Satu lagi, Cak Nun sering mengajari saya secara tidak langsung tentang kecintaan terhadap orang-orang yang selama ini tertindas, orang-orang biasa yang menjalani hidup dengan sederhana, rakyat kecil yang ia temui setiap hari.

Cak Nun seperti juru runding yang menjembatani banyak konflik. Kerusuhan di Jakarta, konflik berdarah di Sampit, korban semburan lumpur Lapindo, sampai perselisihan Sunni-Syiah di negeri ini. Saya pernah melihat video Cak Nun menengahi konflik Sunni-Syiah ini. Saat suasana kian memanas, Guru Emha mengambil alih forum, ia lalu meneriakkan shalawat, dan semua golongan lalu bershalawat bersama, entah Sunni, entah Syiah.

Mantan pelatih timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri pernah bercerita di sebuah forum Kenduri Cinta. “Saya kalau nggak ada Cak Nun, sudah ditembak di Myanmar,” katanya. Pelatih cerdas itu bercerita bahwa saat itu ada mafia bola yang masuk hingga ke lingkaran terdekat timnas untuk pengaturan skor. Indra Sjafri menolak, konon mafia marah dan berniat mencelakai Indra Sjafri. Tapi kemudian niat jahanam itu batal, begitu tahu ada sosok Cak Nun di sana. Cak Nun memang kenal baik dengan Indra Sjafri. Beliau salut dengan perjuangan Indra Sjafri membangun timnas yang dilakoninya meski sempat tidak menerima gaji sebanyak tujuhbelas bulan. Cak Nun datang langsung ke Myanmar untuk memberi semangat dan dukungan moral ke semua punggawa timnas.

Konon, dibatalkannya niat oknum mafia bola mencelakai Indra Sjafri karena mafia tersebut tidak berani kepada Cak Nun. Cak Nun pernah memediasi konflik yang melibatkan keluarga besar oknum mafia bola itu. Petuah dari ibu kandung oknum mafia itu, jangan sampai “berani” dengan Cak Nun sebagai upaya balas budi yang dilakukan keluarga besarnya, karena Cak Nun yang mendamaikan konflik.

Sudjiwo Tedjo, budayawan urakan itu, pernah berujar bahwa satu-satunya orang yang ia anggap guru saat ini adalah Emha Ainun Najib. Belakangan, ungkapan itu sampaikan di Twitter dengan bercanda bahwa Cak Nun adalah “murid”-nya. Padahal, bila bertemu Cak Nun, Sudjiwo Tedjo akan mencium tangannya dengan takzim.

Begitulah kekuatan karisma Cak Nun. Namun demikian, Cak Nun adalah orang yang paling sering disalahpahami. Tulisannya kerap dikutip, omongannya sering dipotong, atau pendapatnya dicuplik untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan tertentu. Terlebih saat polarisme politik belakangan. Ia diposisikan seolah-olah mendukung golongan tertentu sekaligus anti terhadap golongan yang lain. Ditempatkan seakan-akan mendukung salah satu pihak menjadi pemimpin yang disyaratkan sistem pemilihan di negara ini. Padahal, tentu tidak. Bagi Cak Nun, yang paling penting adalah kemaslahatan bagi rakyat kecil, golongan yang selama ini ia ayomi dan ia asuh dengan telaten.

Mas Puthut EA seingat saya pernah bercuit bahwa Cak Nun itu ibarat sambal. Sajian kuliner yang bercitarasa tinggi, adiluhung, tapi tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Bila tidak, siap-siap saja diare.

Saya menyadari, bahwa kesan  belajar dari Cak Nun atau Guru Emha akan menjadi uraian yang sangat panjang. Tidak akan bisa satu tulisan cukup merangkum semua impresi itu. Ada terlalu banyak cerita. Yang jelas, betapa beruntung negeri ini memiliki orang seperti beliau.

Saya kira, saya hanya salah satu orang yang bersyukur akan hal ini. Ada banyak orang di negeri ini yang mengamini hal yang sama. Misalnya, Fahd Pahdepie. Intelektual muda (kelak saya kan menulis soal dia di blog ini) misalnya mengungkapkan kekagumannya pada sosok Cak Nun melalui tulisan yang ia rangkai dari judul-judul karya Cak Nun. Ia mengunggahnya saat Cak Nun tepat berusia 67 tahun, Mei lalu. Berikut tulisannya, sekaligus mengakhiri posting sederhana ini.

MUSYAWARAH PARA KIAI

: Untuk Emha Ainun Nadjib

Oleh Fahd Pahdepie

‘Dari Pojok Sejarah’, ‘Markesot Bertutur’. Di ‘Seribu Masjid Satu Jumlahnya’, alkisah para Kiai sedang bermusyawarah. Sebagai perwakilan warga, turut hadir di sana ‘Doktorandus Mul’, ‘Mas Dukun’, bahkan seorang lelaki yang terkenal dengan kisah ‘Keajaiban Lik Par’ karena ‘Geger Wong Ngoyak Macan’. Hadir juga beberapa tamu, termasuk ‘Sunan Sableng dan Baginda Farouq’.

Pada musyawarah itu, ‘Pak Kanjeng’ memulai ceritanya tentang ‘Indonesia Bagian dari Desa Saya’. Tentang betapa ‘Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya’. Sebuah negeri yang ‘Sedang Tuhan pun Cemburu’, ‘Kagum pada Orang Indonesia’. Di mana ‘Anak Asuh Bernama Indonesia’ bisa begitu lepas dan bahagia seperti cerita-cerita lucu dalam ‘Folklore Madura’.

Namun, ‘Kiai Sudrun Gugat’. Ia sama sekali tidak setuju dan menganggap apa yang dikatakan Pak Kanjeng hanyalah ‘OPLeS: Opini Plesetan’. ‘Kerajaan Indonesia’ adalah ‘Republik Gundul Pacul’. Negeri ini ibarat ‘Perahu Retak’, katanya, ‘Kapal Nuh Abad 21’ yang justru ‘Allah Merasa Heran’ karena kapal itu dikuasai ‘Iblis Nusantara Dajjal Dunia’ yang berkomplot dengan ‘Kafir Liberal’. Dinahkodai oleh 'Pemimpin yang Tuhan', padahal itu hanya GR saja, ‘Presiden Balkadaba’ yang hanya mementingkan ‘Yang Terhormat Nama Saya’, membuat bangsanya jadi ‘Gelandangan di Kampung Sendiri’!

Mendengar Kiai Sudrun begitu penuh emosi dan berapi-api, Markesot mengalihkan pandangannya ke sudut masjid. Kemudian menatap seorang Kiai yang tak pernah mengenalkan namanya sendiri, Kiainya ‘Orang Maiyah’, Kiai yang selalu tenang membacakan ‘Syair-syair Asmaul Husna’.

Darinya ‘Markesot Belajar Mengaji’, dari ‘Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai’ bahkan dari ‘Slilit Sang Kiai’. Darinya ia belajar kesabaran bahwa ‘Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem’, seperti laku yang diajarkan ‘Suluk Pesisiran’.

Melalui tutur lembut Sang Kiai ketika ‘Sinau Bareng Markesot’ selama ini, ia belajar bahwa bahkan dari ‘Secangkir Kopi Jon Pakir’ kita masih bisa menemukan harapan dari ‘Sesobek Buku Harian Indonesia’. Belajar memahami ‘Nasionalisme Muhammad’ yang tidak pernah putus asa bahwa ‘Cahaya Maha Cahaya’ tidak akan meninggalkan apalagi berhenti mencintainya. Yang meski kadang wahyu datang terlambat atau nubuat terasa meragukan, tetapi ‘Tidak. Jibril Tidak Pensiun’. Hanya ‘Allah Tidak Cerewet Seperti Kita’ sebab barangkali kadang ‘Tuhan Pun Berpuasa’.

‘Markesot Bertutur Lagi’, bahwa tentang negeri ini kita harus melakukan ‘Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan’, sambil bermain cantik dengan ‘Bola-bola Kultural’, dalam rangka menyelamatkan Indonesia dari ‘Titik Nadir Demokrasi’ agar tak terlempar ke ‘Keranjang Sampah’ sejarah dan peradaban.

Mendengar kematangan dan ketenangan Markesot, Pak Kanjeng mengangguk-angguk. Ia sepakat bahwa ‘Demokrasi La Roiba Fih’ meskipun harus diperkuat dengan ‘Gerakan Punakawan Atawa Arus Bawah’. Jangan sampai kita kembali menerapkan ‘Demokrasi Tolol Versi Saridin’ yang dulu membuat kita gagal ‘Menyibak Kabut Saat-saat Terakhir bersama Soeharto’. Begitu absurd sehingga hampir membuat bangsa ini ‘Mati Ketawa ala Refotnasi’. ‘Urusan Laut Jangan Dibawa ke Darat’, katanya.

Namun, ‘Kiai Hologram’ punya pendapat lain. Ia adalah 'Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki'. Katanya, Indonesia itu seksi sekaligus agung seperti ‘BH’ seorang ibu. Darinya kita menemukan kegairahan sekaligus kemuliaan, tergantung sudut pandang. Jika otak kita ngeres, maka yang kita lihat hanya kesaruan. Jika pikiran kita jernih, bukankah dengannya air susu kasih sayang dijaga dan dilindungi selama ini? Bayangkan jika ‘Istriku Seribu’, katanya, tidakkah Indonesia begitu Indah seperti ‘Syair Lautan Jilbab’, seperti ‘Sajak-sajak Sepanjang Jalan’ ketika kita bersepeda ‘Jogja-Indonesia Pulang Pergi’?

Mendengar pendapat Kiai Hologram, Kiai Sudrun naik pitam. Ia ‘Terus Mencoba Budaya Tanding’. Ia begitu marah dengan pendapat Kiai Hologram, menunjuk-nunjuknya sambil mengulang-ulang kalimat yang gelisah itu: ‘Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu’. Rasanya ia ingin mendaftar semua kegelisahannya dalam ‘99 untuk Tuhanku’ atau menulis ‘Surat kepada Kanjeng Nabi’ tentang semua kekacauan ini. Ia ingin menggelar ‘Doa Mohon Kutukan’ karena sungguh Indonesia sudah tak bisa diselamatkan lagi. Bahkan kalau bisa, ia ingin ‘Abacadabra Kita Ngumpet’ saja.

Namun, tiba-tiba Kiai Sudrun terjengkang. Kini ia meringkuk kesakitan. Jiwa santri Markesot segera membuatnya bangkit untuk memeriksa apa gerangan yang terjadi pada Kiai Sudrun. Betapa terkejut ia melihat ‘Jejak Tinju Pak Kiai’ di dada Kiai Sudrun. Bagaimana ini bisa terjadi? Markesot menghela nafas, berbahaya memang jika membuat Kiainya Orang Maiyah marah. Bikin semua ‘Kiai Kocar-Kacir’ seperti ini.

Kini, musyawarah itu pun hening. Markesot diminta mendekat oleh Kiai Maiyah untuk mengabarkan ‘Kenduri Cinta’, ‘Padang Rembulan’, dan ‘Kado Muhammad’ untuk Indonesia. Bahwa kita harus mencintai ‘Indonesia Apa Adanya’, lebih banyak mendengarkan ‘Nyanyian Gelandangan’, ‘Tak Mati-Mati’ ‘Menggambar Karikatur Cinta’ untuk negeri ini, menemukan ‘Sastra yang Membebaskan’ sebagai ‘Doa Mencabut Kutukan’ sekaligus ‘Talbiyah Cinta’ dan ‘Ikrar Husnul Khatimah Keluarga Besar Bangsa Indonesia’.

‘Jangan Cintai Ibu Pertiwi’ jika pada saat yang sama kau ingin menghancurkannya. Berhentilah menyebut dirimu muslim jika gagal memahami bahwa ‘Islam itu Rahmatan Lil Alamin, Bukan untuk Kamu Sendiri’. Jangan menggelar ‘Sidang Para Setan’, jangan ‘Menyorong Rembulan’ di ‘Tikungan Iblis’, jangan terlibat dalam ‘Segitiga Cinta’ untuk membersamai Iblis ‘Mencari Buah Simalakama’. Sebab sejatinya ‘Iblis Tidak Butuh Pengikut’!

‘Jaman Wis Akhir’, jadilah ‘Santri-santri Khidir’, jadilah ‘Duta dari Masa Depan’, ‘Daur’ lagi cintamu hingga jika negeri ini harus ‘Lockdown 309 Tahun’ sekalipun engkau tetap bisa menemukan ‘Hikmah Puasa’ dari semesta kejadianNya.

Usai Markesot menyampaikan semuanya, tiba-tiba masjid dipenuhi ribuan jamaah. Di luar masjid, bahkan gelombang manusia terus berdatangan. Berjuta-juta. Berpuluh-puluh juta. Markesot kemudian bergerak ke tengah-tengah kerumunan itu. Sambil memegang pengeras suara, ia ‘Terus Berjalan’ membelah lautan manusia. Ia membaca ‘Wirid Padang Bulan’, menyanyikan ‘Dangdut Kesejukan’ yang kemudian diikuti jutaan manusia menyerupai shalawat.

Di ujung kerumunan, Markesot menghilang. Lenyap ditelan shalawat yang terus menggema. Pak Kanjeng, Kiai Sudrun dan Kiai Hologram hanya bisa bertanya-tanya, ‘Siapa Sebenarnya Markesot?’

Bintaro, 27 Mei 2020
FAHD PAHDEPIE
*Ditulis untuk merayakan#67TahunCakNun. Tulisan ini dirangkai dari judul-judul buku puisi, esai, cerpen, novel dan album yang pernah ditulis Mbah Nun. Hampir seluruhnya sudah saya baca, saya dengarkan, saya tonton (Tebak tahun berapa saja?). Meski saya belum pernah sekalipun bertemu secara personal dengannya, Mbah Nun adalah salah satu guru terbesar dalam hidup saya. Berkah dan sehat selalu, Mbah Nun. Ini hanya 'Kesaksian Orang Biasa'.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar