Selasa, 08 April 2014

Perkara Sayembara



Seorang kawan berkisah pada kami yang sedang duduk bersama di sebuah warung kopi sederhana. Kawan saya itu, beberapa minggu lalu mengikuti lomba penulisan di internet dan dia berhasil meraih juara pertama. Kawan saya itu memang pemburu kontes tulisan. Beberapa kali dia mengikuti lomba menulis yang digagas oleh berbagai pihak. Hasilnya, terhitung  dua kali berhasil masuk dalam tiga besar. Imbalannya, dia meraih hadiah uang tunai dari panitia lomba. Tidak ada yang menjadi persoalan sebenarnya. Sebelumnya dia memulai perihal lain. 


Perihal itu adalah kebanggaan yang kelewat berlebihan. Kawan saya itu merasa bahwa apa yang dia lakukan sudah merupakan pencapaian yang luar biasa. Ia bercerita ke kami bahwa lomba yang berhasil ia menangkan adalah perkara prestisius yang harus diakui kehebatannya oleh semua pihak. Ia mengisahkan bahwa kesulitannya melakukan riset untuk bahan tulisan, wawancara dengan narasumber untuk membuat tulisan bernyawa, dan menegangkannya proses penjurian, adalah serangkaian proses yang harus diganjar dengan sanjungan dan tepuk tangan riuh. 


Mungkin benar, bahwa sebuah pencapaian membutuhkan parameter. Sebuah tolok ukur. Saat seseorang menggeluti dunia penulisan, barangkali akan muncul beragam tolok ukur. Mulai dari karya berupa buku, seringnya dimuat di media, atau bisa juga pengakuan lain semacam soal kontes menulis ini. Tapi mengukur pencapaian hanya berdasarkan keberhasilan meraih juara dari lomba menulis adalah  sebuah sikap yang terburu-buru. 


Buat saya, tak bisa dipungkiri, keberhasilan meraih juara di sebuah kontes penulisan,  suka atau tidak, dipengaruhi oleh beberapa hal yang cenderung berbau keberuntungan. Benar atau tidak, mari kita coba cermati bersama beberapa alasannya. 


Pertama, tentang informasi lomba yang tidak semua orang tahu. Beberapa informasi tentang pengadaan lomba menulis, biasanya hanya diketahui oleh segelintir kalangan. Sehingga kerap terjadi, persaingan tidak begitu sengit. Perbedaan kualitas naskah yang masuk terlalu timpang. Akibatnya penentuan pemenang juga menjadi relatif lebih  mudah. 


Kedua, kalaupun informasi lomba diketahui oleh banyak orang, tidak semuanya bisa mengikuti batasan deadline yang ditentukan. Bisa jadi informasi lomba diketahui hanya beberapa hari menjelang deadline oleh seorang penulis. Sedang dia sibuk menggarap pekerjaan lain dan tidak bisa menyisihkan waktu untuk riset, menggali data dari narasumber, serta menulis untuk lomba itu sendiri. Karena itu semua, penulis tersebut tidak bisa mengikuti lomba. Padahal penulis itu dikenal memiliki kualitas tulisan yang mumpuni.


Ketiga, ada kewajiban panitia lomba. Ketika panitia lomba sudah membuat pengumuman kepada khalayak bahwa dia menggagas lomba dengan batasan deadline, mau tidak mau, ketika deadline sudah tiba, panitia akan menyeleksi tulisan yang masuk. Setelah syarat administratif dianggap terpenuhi, panitia akan memulai seleksi kualitas tulisan. Jika tulisan yang masuk memenuhi harapan panitia karena kualitasnya dianggap bagus, mungkin akan terjadi kompetisi yang seru. Tapi ketika kualitas tulisan yang masuk timpang atau bahkan justru semuanya di luar harapan panitia (kualitasnya buruk), panitia tidak bisa membatalkan lomba. Lomba tetap harus berjalan. Ini seperti memilih yang terbaik di antara sekumpulan yang buruk. Pemenang harus ditentukan dan hadiah harus diberikan. Jika tidak, panitia dianggap membohongi publik. 


***


Berbeda dengan kawan saya yang pertama tadi, saya juga mempunyai satu kawan lagi yang berkomentar soal sayembara menulis. Baginya, kontes menulis atau perkara semacam itu sebisa mungkin dia hindari. Katanya, dia tidak bisa menulis dengan mengikuti aturan orang lain. Ia bahkan berseloroh, bahwa kontes menulis tak ubahnya menjadikan menulis ibarat melacur. Seingat saya, kawan saya yang kedua ini dulu pernah beberapa kali mengikuti lomba menulis, tapi gagal menjadi pemenang. Mungkin dia belajar dari petuah bijak, bahwa selalu ada hikmah dari kondisi apapun–termasuk kekalahan. Dari kegagalan menjadi pemenang lomba penulis yang diikutinya berkali-kali, akhirnya dia mendapat “pencerahan” bahwa menulis dengan berharap imbalan hadiah lalu menjadi taat pada aturan yang ditentukan panitia lomba, tak ubahnya tindakan yang menggadaikan prinsip. Sekali lagi saya ulang ucapannya, itu tak beda dengan melacur. 


Lantas bagaimana sikap saya?


Ketika dua kawan saya itu saling sindir sikap masing-masing, saya memilih hanya senyum-senyum saja. Sesekali sambil nyruput kopi. Buat saya tidak ada yang perlu diperdebatkan lebih jauh lagi. 


Sikap kawan saya yang pertama tadi, sebisanya saya hindari. Alasannya sudah saya ungkap. Menjadi pemenang sayembara menulis sama sekali tidak selayaknya menjadikan saya menepuk dada. Bagi saya, itu semacam kecerobohan yang fatal. Terlalu berbangga diri hanya akan membuat saya malas belajar lebih jauh. Toh, sebagaimana saya bilang, unsur keberuntungan bermain besar dalam perkara ini. 


Tentang kawan saya yang kedua, tidak masalah juga dia beranggapan seperti itu. Namanya pendapat orang lain, harus dihormati, walau saya tidak setuju dengan anggapannya. Saya memegang prinsip idealis di ranah pribadi, kompromi di ranah publik.  Dalam beberapa hal yang menyangkut persoalan diri sendiri, saya harus menentukan perkara ideal. Misalnya, saya tidak akan memukul perempuan. Itu perkara ideal bagi saya. Tapi dalam hal yang menyangkut orang banyak, saya harus kompromi. Perkara lomba menulis ini bagi saya masuk di ranah publik. Sederhana saja, ada orang meminta ide  dari kita (dan 0rang lain), yang sesuai aturan dan memenuhi harapan akan diganjar hadiah. Selesai. 


Itu tak ubahnya dengan kita sekolah, belanja di warung, datang ke pesta, atau perbandingan yang paling mirip: bekerja. Kita tidak bisa sekolah dengan aturan kita sendiri, belanja dengan aturan kita sendiri, atau bekerja dengan aturan kita sendiri. Menjadi wirausaha pun, kita harus mengikuti aturan antara kita sebagai pelaku usaha dengan konsumen. 


Tapi kalaupun teman saya tidak setuju, itu tak jadi soal. Mau bilang saya pelacur juga tidak apa. Ketika saya ungkapkan itu, kawan saya tertawa ngakak, lalu mengolok saya,”Kurang ajar kamu, Bay!”


Saya ikut ngakak. Memang, saya kurang ajar. Bisa juga (maaf) bajingan, mungkin. Bastard. Dalam perkara sayembara penulisan, mungkin saya lebih tepat disebut orang kurang yang ajar atau bajingan yang beruntung. The Lucky Bastard. Dan saya bersyukur untuk itu semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar