Selasa, 10 September 2013

Surat untuk September


Gambar diambil dari sini


Aku berterimakasih untuk Minggu pagi yang hangat, udara yang berwarna biru tosca dan beraroma vanila, serta  jarum jam dinding yang bergulir terburu-buru. Cuaca seperti berganti dalam kamar. Hujan, kemarau, dan keempat musim berganti begitu cepat dalam hitungan beberapa jam saja. Lalu aku harus pergi. Sejenak. Menitipkan seluruh rindu pada setiap titik tahi lalat yang mendedah lekuk tubuh.

Aku berterima kasih untuk kesempatan melarikan diri dari sirkuit hidup yang kerap menyeretku tersaruk-tersaruk, menyuguhi ketidakadilan, sambil memberikan dongeng tentang amsal-amsal bahwa dunia tidak berisi sekadar hal-hal yang selalu kita inginkan.

September, aku meminta. Hadirkan aku kembali di  awal almanak. Mungkin tidak sebagai manusia. Sekadar menjadi ujung kukunya yang tumbuh tanpa dia sadari, menjadi alasan baginya untuk berhenti sejenak dari kepenatan hidup yang bangsat. Merawat ujung-ujung kuku agar tidak menjadi perkara remeh yang tajam melukai. Meluangkan sedikit waktu senggang yang begitu intim. Begitu hangat. 

Atau menjadi alien yang tiba-tiba datang ke kamarnya, bercinta sekali-dua kali, lalu menculiknya ke galaksi entah. Atau menjadi buku catatan yang selalu dia bawa ke mana-mana.  Menemani sengkarut lamunan dan keresahannya. Atau menjadi dinding-dinding kamar yang kerap diajaknya berbicara lirih. Atau menjadi cicak yang kerap berdecak, makhluk yang gemar mencuri pandang saat dia genit berdandan. 

Atau September,  setidaknya kabulkanlah satu hal. Berikan senja yang temaram saat kami dan anak kami bercengkrama di beranda rumah kami yang mungil.  Bercanda sambil meminum teh beraroma melati. Lalu menghadapi malam yang gelap dengan bernyanyi bersama-sama.  Sebelum  angin subuh mengingatkan kami. Tentang hidup yang riuh oleh paradoks. Tentang kaki-kaki yang saling menopang. Tentang pelukan-pelukan yang menyembuhkan luka.