Sabtu, 16 November 2013

Terima Kasih, Urbaz!


Tulisan terakhir saya untuk proyek #5BukuDalamHidupku
=====================================================================




“Tidak perlu jawaban untuk semua persoalan..”
--Surat Ahmad kepada Sampaguita, Selamat Pagi Urbaz

Saya berhutang pada dunia komik. Masa kecil saya lumayan kenyang dengan ragam bacaan komik di sekitar saya. Mulai dari komik tentang neraka buatan komikus lokal (saya belum tahu namanya hingga kini) yang terlalu menakut-nakuti, komik-komik tentang wayang, komik-komik Eropa sampai komik Jepang dengan segala varian temanya. Alhasil, saya sempat bercita-cita menjadi seorang komikus. Saya membayangkan serunya berpikir secara sinematografis, menata panel demi panel, membuat sketsa, meninta, dan dikejar deadline.

Dan saya menempatkan sebuah komik di jajaran pertama komik favorit saya. Saya juga memasukkannya sebagai salah satu buku penting dalam perjalanan hidup saya. Komik itu berjudul Selamat Pagi Urbaz, pengarangnya adalah Beng Rahadian. Selamat Pagi Urbaz (SPU) bagi sebagian kalangan bukanlah komik biasa. SPU bukanlah komik konvensional. SPU adalah novel grafis.

Saya membaca SPU saat saya baru tinggal beberapa hari di kota Malang sebagai mahasiswa baru. Di sebuah toko buku yang gagah nian, berdiri menghadap patung Chairil Anwar di jantung kota, saya membelinya. Saya ingat, SPU adalah buku pertama yang saya beli di kota Malang.

Dari SPU saya semakin yakin bahwa komik bukanlah bacaan kasta rendah. Komik adalah bahasa visual yang membutuhkan kemampuan khusus agar pesan dapat disampaikan pada pembacanya. Bahkan menurut saya, membuat komik jauh lebih susah daripada membuat buku biasa. Dan ironisnya, hal ini tidak membuat hilangnya anggapan terhadap komik yang kerap dilabeli sebagai bacaan remeh temeh.

SPU juga sebuah bukti konkrit bahwa komik bisa bertansformasi dengan sedemikian rupa untuk beralih menjadi bacaan berkualitas. Ia tidak hadir sekadar gambar-gambar dalam panel yang berjajar, dengan balon dialog berisi teks yang berisi omongan tokoh-tokoh di dalamnya. SPU memberi ketegasan bahwa komik bukanlah cerita yang bergambar, namun gambar yang bercerita  dengan teks sebagai bagian integral dari sebuah karya seni yang mencoba menyampaikan pesan pengarangnya.

Jangan tanya soal aspek visual SPU. Beng dengan begitu detail menggambar komik ini. Caranya mengambil angle, mengarsir, menampilkan kedalaman gambar benar istimewa. Dan Beng melakukannya sendirian, tanpa tim. Dia sendiri yang mengawali proses berkarya dengan sketsa, membuat outline, memoles background, sampai merangkai panel.

Elemen-elemen vital dalam penyusunan cerita (atau mungkin novel) benar-benar Beng garap dengan serius. Plot, penokohan, konflik, cara penyampaian gagasan dalam SPU benar-benar cemerlang. Membaca SPU, saya seakan melihat sebuah film yang begitu menarik  dalam imajnasi saya.

SPU menceritakan tentang seorang gadis yang menjalani liburannya di Jogja.  Kirin, begitu nama gadis itu, selalu membawa kawan setianya berupa buku harian. Buku harian itu diberi nama “Urbaz”. Perjalanan Kirin di Jogja—dan dia ceritakan dalam Urbaz , inilah yang melatarbelakangi SPU. 

Selain cerita soal Kirin dan buku hariannya, SPU juga berisi cerita berjudul “Benda Terbang”. Cerita yang diplot secara mundur ini mengisahkan kisah seorang pemuda bernama Ahmad yang menulis surat-surat untuk kekasihnya. Cerita kemudian berkembang tentang Gombloh, seorang pemuda desa yang juga menganut paham “kiri” yang dikejar-kejar masyarakat karena paham yang ia yakini sekaligus karena dianggap mempunyai ilmu gaib. Gombloh sendiri sebagaimana Kirin, mempunyai kebiasaan menulis di buku harian dan kerap membawanya ke manapun ia pergi.

Dari SPU saya berkenalan dengan banyak hal. Mulai lagu-lagu Pearl Jam (Beng adalah penggemar Pearl Jam) sampai buku Anthony Giddens. Dari SPU juga saya akhirnya membuat blog untuk pertama kali. Awalnya hanya karena ingin membaca tulisan-tulisan Beng sekaligus melihat karya-karyanya grafisnya yang lain. Dari situ akhirnya saya membuat akun di multiply dan berkenalan dengan banyak narablog. SPU juga memberi pengingat pada saya tentang pentingnya sebuah tulisan, apalagi tulisan tangan. SPU seakan mengajarkan frasa scripta manent verba volant dengan caranya sendiri. Lebih jauh tentang hal ini, saya tuliskan cuplikan surat dari Ahmad untuk kekasihnya, saat dia menerima pertanyaan, “Kenapa masih ribet surat-suratan pake pos segala, sekarang jaman internet, pake email kan lebih praktis?”

Ahmad menjawab  lewat sebuah surat yang dia selipkan di novel Supernova untuk kekasihnya:

“Bagiku surat dengan tulisan tangan memiliki nilai personal yang khas, utuh dan tidak terganti. Setiap  bentik hurufnya mewakili kepribadian dan pola pikir. Tulisan tangan harus hati-hati karena tidak ada tuts delete atau cancel
Ada desahan nafas dalam setiap tarikan garis, ada detak jantung dalam susunan huruf. Barangkali ini terlalu emosional buat kamu, tapi buat aku tidak.
Seharusnya kamu tahu, semua hal personal dari aku, layak kuberikan untuk orang yang sangat personal juga buat aku..”

Ahmad sendiri dikisahkan meninggalkan Indonesia dan bermukim di San Fransisco. Ia seakan menghilang begitu saja, meninggalkan kekasihnya.  Kekasihnya yang bernama Sampaguita, hanya bisa “menghidupkan” kembali Ahmad dalam ingatan lewat surat-surat berisi tulisan tangan yang dia kirim sebelumnya. Begitu dahysat kekuatan tulisan yang ditulis dengan hati. Sampaguita akhirnya menjadi seorang jurnalis. Semangatnya untuk menulis feature di sebuah majalah wanita terus tumbuh setiap kali ia membaca surat-surat dari Ahmad.

Setiap detik telah kuhitung
dalam kesendirian
aku menjinjing rembulan

Hingga suatu saat matahari
bersandar di bahuku
Dan kuhapus semua dukanya..

Kesetiaan itu diperjuangkan.

SPU telah mengantarkan saya pada banyak hal penting dalam perjalanan saya. Karenanya, saya menaruh hormat yang dalam kepada buku ini. Karenanya pula, tulisan ini hadir sebagai bentuk penghormatan kepadanya, menempatkannya sebagai salah satu buku penting dalam hidup saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar