Senin, 08 April 2013

Semacam Upaya Mencatat Kematian


Gambar diambil dari sini


Dua hari terakhir, saya banyak bicara tentang kematian.


Sabtu kemarin, saya pulang larut malam. Udara dingin nian. Jalanan sunyi dan lengang. Hingga saat saya sampai di sebuah tikungan yang cukup tajam, saya menghentikan kendaraan saya sejenak.

Di sekitar tikungan itu, terlihat banyak orang yang berkerumun. Saya turun dari kendaraan untuk melihat apa yang terjadi. Tatapan saya terhenti pada dua sosok yang  tergeletak di pinggir jalan. Dua sosok yang sudah tidak bernyawa. Beberapa orang bergidik, beberapa menjerit. Sisanya tercekat, sesekali menelan ludah. Saya salah satunya.

Satu dari dua sosok tadi tergeletak tak bernyawa dengan tungkai kaki yang berotasi hampir 180 derajat. Jelas, itu diakibatkan benturan yang sangat keras, hingga tungkai kaki bisa berputar seperti itu. Seorang lagi lebih mengenaskan. Tempurung kepalanya pecah. Saya mengamati aspal di sekitar kepala  yang pecah itu. Saya tercengang melihat sebuah onggokan berwarna putih pucat agak merah muda  di dekat mayat pemuda yang tergeletak itu. Sebagian dari onggokan itu hancur, terseret aspal. Sebagian besar masih utuh. Itu adalah jaringan otak yang keluar dari batok kepala. Tulang kepala yang keras itu pecah, tentu karena benturan yang lebih keras.

Dua pemuda naas itu tewas karena kecelakaan kendaraan bermotor. Mereka  tak pakai helm. Motor yang mereka naiki adalah motor hasil modifikasi ala kadar. Di dekat  lokasi kecelakaan itu, memang sering diadakan balap liar. Entah, apakah dua pemuda yang ditemukan tewas itu juga hendak mengikuti balap liar atau tidak.

Saya berdiri mematung melihat dua sosok mayat pemuda  itu. Saya membayangkan kesedihan anggota keluarga mereka, saat mendapat kabar bahwa mereka tewas mengenaskan. Saya juga terhenyak karena jasad dua orang itu dibiarkan begitu saja di pinggir jalan, sembari menunggu keluarganya datang.


Omongan Soe Hok-Gie soal maut tak lagi relevan. "Maut: indah datangnya dan selalu diberi salam," kata Gie. Tapi itu seakan tidak berlaku bagi dua orang mayat tadi, mungkin.


Setelah agak lama, keluarga mereka datang. Saya melanjutkan perjalanan. Khawatir tidak sanggup mengendalikan perasaan. 



***


Paginya, saya berkirim pesan pendek dengan seorang kawan. Entah bagaimana mulanya, hingga obrolan kami sempat membicarakan kematian. Saya sempat mengaku, bahwa dulu saya pernah berobsesi mati muda. Dia berseloroh, “Mati muda itu ndewo banget.”


Kawan saya juga punya obsesi. Jika saya berobsesi mati muda, dia sempat berobsesi menikah muda. Tapi hidup bukan hanya menyoal obsesi. Lambat laun obsesi kami memudar. Kawan saya menggeser obsesinya menjadi menikah (saja), meski mungkin di usia yang tak semuda harapannya. Dan obsesi saya untuk mati muda juga tidak sekuat dulu, meski mungkin obsesi itu masih ada.

Keinginan mati muda itu saya ungkapkan juga pada percakapan lainnya dengan seorang yang lain, di hari yang sama.

Sore, pada percakapan di fitur obrolan di smartphone, saya bertanya pada seseorang di ujung sana, “Bagaimana kalau saya mati muda?”

Pertanyaan itu muncul setelah sebelumnya kami mengobrol tentang seorang kawannya yang meninggal di usia muda. Kebetulan, saya yang jaga di UGD tahu kondisi awal kawan yang dia ceritakan itu, sebelum dia akhirnya dirawat di ruang ICU dan meninggal di sana.

Pertanyaan saya tidak dijawabnya saat itu. Mungkin dia malas, atau justru takut.

Saya tidak pernah merasa takut atau menanam perasaan khawatir saat membicarakan kematian saya sendiri. Saya bahkan sering meraba-raba dalam imajinasi saya, bagaimana kelak saya meninggal dan bagaimana saya dimakamkan. Buat saya, imajinasi adalah hak istimewa manusia, ihwal maut sekalipun.

Saya kerap membayangkan saya meninggal diam-diam. Setelah berjalan-jalan, duduk di teras sambil melihat langit yang biru—sebagaimana kebiasaan saya sekarang. Atau meninggal setelah menulis dan membaca buku di kala subuh. Atau meninggal setelah mengulum cokelat. Atau meninggal dalam pelukan orang yang saya cintai sebagaimana kisah-kisah dalam roman.

Tapi  saya sangat sadar, jika kehidupan bukan cuma perkara yang kita inginkan, maka kematian juga mengamini hal yang sama.

Kawan dari teman saya itu sempat menuliskan “pertanda” dia akan meninggal. Sebelum meninggal, dia menulis di status Blackberry Messenger: “Ya Rabb, jika hamba diberi kesempatan hidup, beri kebarokahan”.

Betapa menariknya bisa “meramal” kematian sendiri lalu menuliskannya. Semacam pamit menggunakan aksara kepada kehidupan. Tidak semua orang diberi hak semacam itu. Saya pernah membaca tulisan Zen RS soal beberapa penyair yang membuat sajak tentang kematian dan mereka meninggal sesuai dengan kondisi yang digambarkan lewat sajak masing-masing.

Tentu saja, catatan yang sedang Anda baca ini bukanlah hal semacam itu. Saya tidak sekeren itu.

Saya menulis tulisan ini sambil ditemani lagu-lagu yang berbaris di playlist. Saya lalu memencet sebuah lagu yang rasa-rasanya sangat pas. Dari Dream Theater, grup musik yang karib dengan kesan garang dan angker, yang membicarakan kematian dengan begitu manis lewat sebuah lagu: Spirit Carries On.


If I die tomorrow
I'd be allright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying

I used to think death was the end
But that was before
I'm not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers

I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try
…..
Move on, be brave
Don't weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear

Safe in the light that surrounds me

Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again

Saya bergumam. Menyanyikannya lirih. Barangkali, jika nasib adalah makhluk hidup, ia sedang menertawakan tingkah saya pelan-pelan.

1 komentar:

  1. Baca tulisan ini dan waktu hapir menunjukkan 00:00 adalah sebuah kebetulan yang tidak mengenakkan. Berhenti membaca sebentar utk membangunkan istri karna AL minta nenen dan melanjutkannya kembali.
    Jadi ingat puisi dari Bung Remi tentang kematian beberapa saat sebelum beliau benar-benar pergi. Seperti lagi Nike Ardilla tentang pulang sesaat sebelum dia benar-benar pulang.
    Tulisan inipun Sebuah pertanda atau bukan, saya tidak mengamini. hanya saja sudah cukup bekal untuk kehidupan setelah kematian? karna buat saya kematian itu tak perlu diminta ato diharapkan karena TUHAN pasti akan memberikannya secara cuma-cuma. yang terpenting adalah mempersiapkan semuanya ketika kematian itu datang.

    BalasHapus