Jumat, 14 Oktober 2011

Sepakbola dan Hutang yang Tak Terbayar




John F Kennedy pernah berujar, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu. Tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negara”.
Gagah benar, sekaligus terdengar utopis. Saya tidak mau membahas terlalu jauh omongan presiden yang pernah menjadi karib Soekarno ini. Saya cuma..emm..meminjam kuotasinya. Itu juga tidak akan saya kembalikan
 
Jadi kalo JFK pernah memakai kuotasi di atas untuk menggugah semangat nasionalisme rakyatnya, saya memilih menggunakan kuotasi itu dengan sedikit modifikasi ngawur untuk mengucapkan rasa terima kasih saya. Kepada negara? Tidak. Kepada John F Kennedy? Jelas salah. Kata-kata Kennedy itu saya gunakan untuk berterima kasih pada sepakbola! Umat bola harus menandaskan kata-kata ini di dasar hatinya: “jangan tanyakan apa yang kamu berikan kepada sepakbola, tapi tanyakan apa yang sepakbola berikan padamu”!

Bila diijinkan bermonolog, yakni dengan bertanya sekaligus menjawab pertanyaan sendiri, maka biarlah halaman blog ini menjadi semacam panggung. Saya akan menjawab seberapa jauh sepakbola memberikan sesuatu pada saya. Saya akan ceritakan tanpa malu-malu hutang saya kepada sepakbola.

Jadi begini, saya terlahir sebagai bungsu dari lima bersaudara. Kakak-kakak saya tidak ada yang tersesat mencintai sepakbola sebagaimana saya. Tak ada satupun. Malah ironisnya, mereka semua malas berolahraga.
Cinta saya pada sepakbola dimulai saat saya menginjak sekolah dasar. Saya disekolahkan di sebuah sekolah yang kebanyakan muridnya adalah keturunan etnis Tionghoa. Dan sepakbola tidak menjadi olahraga yang populer. Kalah dengan basket. Di sekolah itu, saya dan sepakbola mengalami nasib yang sama: menjadi minoritas.

Karena tidak populer, bisa ditebak prestasi kami di kejuaraan antar SD di desa kami. Kami tak pernah menang. Saat itu saya lihat, bagaimana sepakbola bisa memberikan kebanggaan. Ya, kebanggaan adalah hal pertama yang saya dapatkan dari sepakbola.

Lalu saya dibaiat menjadi umat bola. Setiap sore, saya bergabung dengan anak-anak kampung tempat saya tinggal, untuk bermain bola di lapangan. Hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, mengingat saya hanya bermain dengan teman-teman saya di sekolah yang kebanyakan etnis Tionghoa. Ada sebuah peraturan tidak tertulis yang disepakati entah mulai jaman bapaknya siapa, bahwa mereka yang hendak bergabung dengan anak-anak kampung, disyaratkan bisa-atau setidaknya berani-bermain sepakbola.

Sepakbola anak-anak kampung adalah sepakbola yang sepenuhnya mengandalkan bakat alam. Kami bermain telanjang kaki sepanjang sore di tanah lapang yang keras dan berbatu. Jatuh dan lecet-lecet itu perkara harian. Sepakbola kampung adalah permainan keras, dan berani adalah syarat mutlak. Ini hutang saya selanjutnya pada sepakbola. Sepakbola memberikan saya keberanian.

Maka bisa ditebak, selanjutnya orang tua saya yang sedikit protes. Melihat anak bungsunya setiap hari pulang menjelang petang dengan berkeringat deras dan kaki yang lukanya berpindah bergantian.
Ibu setiap hari mencuci baju yang saya pakai usai bermain bola, bapak setiap hari mengomel.

“Mau jadi apa kamu? Lihat si Fulan, dia jago main sepakbola, tapi cuma jadi buruh bangunan.” Bapak biasanya bertanya semacam itu.
Saya biasanya hanya diam. Tak memberi jawaban.

“Di desa, sepakbola tidak akan menjamin hidup kamu. Mungkin beda halnya kalau kamu main di kota.”
Bapak juga sering berujar seperti itu.

Oh Bapak, sedari kecil itu pun saya sudah paham bahwa saya melakukan sesuatu yang bukan uang sebagai landasan utama. Saya melakukannya karena suka. Buat saya yang saat itu baru khitan, keren sekali ketika pulang dari lapangan, lalu menghadap cermin, dengan peluh bercucuran dan kaki penuh luka-luka, kita berbicara pada sosok yang kita hadapi di cermin, ”Hei kamu! Ya kamu! Kamu tadi mencetak gol dan memberikan kemenangan”.
Itu lebih keren daripada mendapat jatah uang jajan seminggu.

Tapi Ibu yang cemas. Bukan karena saya tidak mendapat uang dan takut anaknya menjaring mimpi sebagai pesepakbola, tapi takut anaknya cedera. Karenanya, anak bungsu yang manis itu lalu mengikuti sekolah sepakbola di kecamatan. Harapannya, agar bisa sedikit belajar teknik bermain yang benar, sehingga resiko cedera dapat diminimalkan. Sang anak setuju, dia bergabung dengan sekolah sepakbola. Ia menyisihkan uang jajannya untuk membeli seragam dan membayar iuran bulanan. Lihat sepakbola mengajarkan anak itu untuk berani berkorban pada apa yang ia cintai. Ia belajar cinta kepada sepakbola dan berlatih setiap minggu , di saat anak-anak seusianya sudah belajar nembak cewek dan menonton paha Eva Arnas di bioskop setiap akhir pekan.

Bapak tetap tidak setuju. Saya ikut sekolah sepakbola secara sembunyi-sembunyi. Ketika berangkat, saya usahakan sebisa mungkin Bapak tidak tahu. Caranya bermacam-macam. Cara favorit saya adalah meletakkan sepatu saya di luar pagar rumah sebelum saya berangkat. Biasanya saya lempar dari dalam halaman rumah. Lalu saya keluar rumah seakan tidak ada apa-apa. Melewati Bapak yang sedang bekerja, dan beliau tidak curiga apapun. Setelahnya, saya mengambil sepatu bola yang sudah saya lempar sebelumnya, lalu segera menuju stadion kecil di kecamatan untuk berlatih.

Sepakbola tak hanya memberikan itu kepada saya. Lewat sepakbola, saya mengenal kerjasama. Saya mengenal interaksi. Saya mengenal sportivitas. Saya mengenal kegigihan. Bahkan sebagaimana Albert Camus bilang, saya belajar tentang moralitas dari sepakbola.  

Begitulah, saya punya banyak hutang pada sepakbola. Saya juga tidak tahu bagaimana melunasi hutang yang tek ternilai itu. Tak ada standar yang jelas juga soal pembayarannya. Kalau mencintai sepakbola adalah cara yang paling memungkinkan untuk membayar hutang berbunga-bunga itu, maka tak jadi soal. Saya toh melakukannya sampai sekarang. Yang jadi soal, sampai kapan? Entahlah, saya juga tidak bisa menjawab.

Ah, saya teringat seorang kawan yang atheis. Dia pernah saya tanya, ”Apakah agama perlu diajarkan pada anak-anak?”

Dia menjawab kurang lebih begini, ”Untuk apa, yang penting itu mengajarkan kepada anak-anak untuk berbuat baik”.

Saya termenung sejenak, bukan mempersoalkan jawabannya. Tapi kebaikan juga memerlukan  sistem untuk mendukung tercapainya tujuan. Kaum theis menggunakan agama. 

Dan rasa-rasanya, untuk hal itu, sepakbola juga bisa menjadi sistem alternatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar